MANADOPOSTID - Istilah lazy ambitious belakangan kerap muncul di media sosial dan menarik perhatian karena terkesan seperti sebuah paradoks. Bagaimana mungkin seseorang disebut ambisius sekaligus "malas" dalam waktu bersamaan? Namun, jika ditelusuri lebih jauh, istilah tersebut sebenarnya menggambarkan fenomena yang cukup nyata di tengah masyarakat, terutama generasi muda.
Semakin banyak orang yang tetap memiliki mimpi besar, namun tidak lagi ingin menjalani hidup dalam mode "kerja tanpa henti". Mereka tetap ingin berkarier, mengejar target, dan terus berkembang, tetapi tidak lagi bersedia mengorbankan waktu istirahat, kesehatan mental, maupun kehidupan pribadi hanya demi terlihat produktif. Pandangan ini muncul seiring semakin banyaknya orang yang mengalami burnout akibat anggapan lama bahwa semakin sibuk seseorang, semakin sukses pula dirinya.
Sebagai generasi yang tumbuh bersama media sosial, banyak orang hampir setiap hari disuguhi pencapaian orang lain, mulai dari keberhasilan membangun bisnis di usia muda hingga rutinitas yang tampak sangat produktif. Tanpa disadari, hal ini memunculkan tekanan tersendiri, seolah-olah seseorang harus selalu bergerak, sementara beristirahat justru menimbulkan rasa bersalah karena dianggap tertinggal dari orang lain. Budaya hustle yang selama ini diagungkan secara tidak langsung menjadikan kesibukan sebagai simbol keberhasilan, padahal sibuk dan produktif sesungguhnya bukan hal yang sama.
Lazy ambitious bukan berarti seseorang tidak mau berusaha. Istilah ini justru menggambarkan orang-orang yang tetap memiliki ambisi besar, tetapi tidak lagi terobsesi untuk selalu terlihat sibuk. Mereka tetap ingin mencapai tujuan dan meraih kesuksesan, namun dengan cara yang lebih realistis dan berkelanjutan, tanpa membiarkan hidupnya hanya diisi oleh pekerjaan semata.
Fenomena ini dinilai semakin relevan, terutama di kalangan generasi muda yang mulai mengevaluasi kembali prioritas hidup mereka, termasuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental dan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Kesuksesan yang dahulu sering diukur dari jabatan, penghasilan, atau kesibukan, kini mulai dimaknai lebih luas, yakni turut mencakup memiliki waktu untuk keluarga dan mampu menikmati hidup tanpa terus-menerus berada dalam kondisi kelelahan.
Sebagian orang menganggap keengganan untuk terlalu sibuk sebagai tanda kurang ambisius, bahkan pemalas. Padahal, orang yang lazy ambitious tetap memiliki target dan tanggung jawab, hanya saja mereka lebih selektif dalam menggunakan energi dan lebih memilih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting, alih-alih menghabiskan waktu sekadar untuk terlihat sibuk.
Pada akhirnya, kesuksesan bukan lagi soal siapa yang paling sibuk, melainkan siapa yang mampu mencapai mimpinya tanpa kehilangan dirinya sendiri. Di tengah dorongan untuk terus bergerak lebih cepat, memilih melambat sesekali dipandang bukan sebagai bentuk kemalasan, melainkan cara baru untuk tetap menjaga ambisi tanpa mengorbankan diri sendiri.
Editor : ALengkong