JAGOSATU.COM -Kendati Pemprov Sulut yang digawangi Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandow gencar sosialiasi Jangan Takut Makan Babi, warga tetap panik dengan merebaknya ancaman virus African Swine Fever (ASF).
Virus Flu Babi Afrika itu kini menjadi momok bagi peternak babi dan konsumen babi di Sulut yang memang tinggi.
Sederet pedagang daging babi di Pasar Pinasungkulan Karombasan tampak lesu dengan penurunan kinat warga membeli daging babi.
Selain minat pembeli menurun, harga daging babi pun terjun bebas.
Baca Juga: Sepeda Motor Listrik Spanyol Melebarkan Sayap ke Indonesia dengan Ekspansi Pasar
Biasanya di kisaran Rp6-75 ribu per kilogram, kini menukik pada posisi harga Rp35 ribu saja per kilogram.
Padahal berulangkali Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut menekankan bahwa virus flu babi afrika belum masuk Sulut.
Hanya saja warga konsumen daging babi tampak makin berhati-hati.
Penegasan Gubernur OD bahwa virus itu hanya berjangkit dari hewan ke hewan, bukan dari hewan ke manusia, sepertinya perlu digalakkan lagi.
Sebab, tampak warga mulai trauma mengonsumsi ddaging babi.
Hingga membuat peternak dan pedagang daging babi merana.
Takut dengan ancaman flu babi afrika, kini banyak warga beralih ked aging ayam.
Elsye, warga Ranotana mengaku sejak wabah flu babi merebak, keluarganya stop konsumsi daging babi. "Kami memlih yang aman, daging ayam.
Setidaknya sudah tiga pekan ini kami berhenti makan babi. Bagaimanapun tetap trauma dengan virus ASF,’’ tuturnya.
Seharusnya tambah Lince, keluarganya adalah pengonsumsi daging babi rutin.
Dan mereka hampir setiap hari belanja di pasar Karombasan.
Hanya saja kata warga Pakowa ini, sejak virus ASF merebak, mereka memutuskan stop makan daging babi.
Sebagai gantinya, keluarga asal Sonder itu memilih daging ayam atau daging sapi.
Beberapa pedagang yang tampak lesu menolak diwawancarai. ‘’Biar le ngoni wawancara tetap orang so nda rupa dulu kalo beli daging babi.
So tako samua dorang gara-gara ni virus kurangajar.
Padahal belum ada yang masuk Sulut.
Torang pe babi ada periksa dulu baru potong kong jual.
Mar masyarakat so telanjur termakan dengan isu virus flu babi Afrika,’’ sembur Once, panggilan salah satu pedagang yang menolak nama aslinya ditulis.
‘’Bapak lia sandiri to, tadi ibu-ibu torang pe langganan tetap, skarang so nemau beli daging babi, karena dorang tako virus,’’ ketusnya dengan nada pasrah.(mpd)
Editor : Nur Fadilah