JAKARTA – Pemerintah dan pelaku ritel menargetkan transaksi pada momentum Lebaran bisa tembus Rp 50 triliun. Target ini dinilai realistis seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), serta berbagai kampanye belanja domestik. Pemerintah dan pelaku usaha juga gencar menjalankan program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026.
Program yang digelar pada 6-30 Maret 2026 itu merupakan kolaborasi pemerintah dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) untuk memperkuat konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. "Di momen Idulfitri minat orang belanja sangat tinggi, tidak hanya di Jakarta, melainkan di daerah-daerah tujuan wisata favorit. Apalagi ketika masyarakat mendapat THR, biasanya spending-nya tinggi," ujar Wakil Ketua Umum Hippindo Fetty Kwartati.
Dia menambahkan, sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha melalui berbagai kampanye belanja nasional juga berperan dalam mendorong proyeksi kenaikan transaksi. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama periode Lebaran, sekitar 800 merek dengan lebih dari 80.000 gerai telah bersiap melayani konsumen di 24 provinsi. Sektor makanan dan minuman serta kebutuhan gaya hidup diperkirakan tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan transaksi.
Baca Juga: Sektor Logistik Keluhkan Antrean Kapal di Pelabuhan
Terpisah, Plt Direktur Perdagangan Melalui Sistem Elektronik dan Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan Bambang Wisnubroto menegaskan bahwa program BINA tidak hanya bersifat seremonial, melainkan instrumen strategis untuk menjaga momentum konsumsi nasional. "Tentunya ini perlu sinergi kita bersama, kita dukung sama-sama agar target yang meningkat kurang lebih 50 persen dibanding tahun lalu ini bisa kita capai. Ini perlu kolaborasi dan sinergi kita semua, baik sisi pemerintah maupun sisi teman-teman pelaku usaha," urai Bambang. (agf/gal/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy