SURABAYA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha Jawa Timur. Importir menilai konflik berkepanjangan berpotensi memicu kenaikan harga bahan baku industri. Eksportir menunda pengiriman barang karena biaya perjalanan naik dan tidak sebanding dengan harga barang.
“Konflik atau ketegangan geopolitik yang berlangsung beberapa hari saja sudah bisa memberi dampak tidak langsung bagi pelaku usaha di banyak negara, termasuk importir bahan baku di Indonesia,” ujar Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur Hana Belladina di Surabaya kemarin (11/3).
Dia menambahkan, Indonesia selama ini mengimpor berbagai bahan baku industri petrokimia dan pupuk dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Padahal, bahan baku impor tersebut banyak digunakan oleh industri manufaktur yang tersebar di kawasan Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.
Untuk mengantisipasi risiko gangguan pasokan, Bella menyarankan importir menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. “Importir perlu menambah safety stock, memesan barang lebih awal, serta memantau jadwal pengiriman bersama supplier dan forwarder,” ujarnya.
Baca Juga: OJK Perketat Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Bank
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah juga mulai berdampak pada arus ekspor Jawa Timur. Ketegangan di Selat Hormuz membuat sejumlah perusahaan pelayaran menghindari jalur tersebut sehingga jadwal pengiriman barang ke luar negeri mulai terganggu.
Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur Boy G Rahman mengatakan, banyak eksportir memilih menunda pengiriman sambil menunggu kepastian situasi karena khawatir biaya pengiriman tidak lagi sebanding dengan harga barang.
Menurut Boy, dalam dua tahun terakhir Selat Hormuz sebenarnya menjadi jalur alternatif bagi kapal-kapal nonmigas yang menghindari jalur Laut Merah akibat krisis keamanan yang dipicu konflik di kawasan tersebut.
Boy menyebutkan, tarif pengiriman kontainer 20 kaki yang saat ini sekitar USD 3.500 melalui Terusan Suez dapat meningkat hingga USD 6.000 jika harus memutar lewat Afrika Selatan. “Kalau biaya pengiriman sudah mahal, barang ekspor akan sulit bersaing di pasar negara tujuan,” paparnya.(bil/zam/dio/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy