Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Lonjakan Harga Plastik Ancam Kerek Inflasi

Pratama Karamoy • Selasa, 7 April 2026 - 22:08 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

JAKARTA – Lonjakan harga plastik mulai menekan berbagai sektor usaha di dalam negeri. Kenaikan biaya kemasan dikhawatirkan memicu kenaikan harga barang konsumsi sekaligus menekan daya beli masyarakat.

Pengamat ekonomi Universitas Indonesia Rifelly Dewi Astuti mengatakan, kenaikan harga plastik tidak terlepas dari melonjaknya harga minyak bumi sebagai bahan baku utama industri tersebut. Komoditas itu merupakan komponen penting dalam proses produksi, terutama untuk kebutuhan pengemasan produk. Ketergantungan terbesar dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM). "Plastik menjadi komponen utama pengemasan. Hampir seluruh aktivitas ekonomi, terutama UKM, tidak bisa terlepas dari plastik," katanya kemarin (6/4).

Kenaikan harga plastik otomatis meningkatkan biaya produksi dan harga pokok penjualan (HPP). Akibatnya, produsen terpaksa menaikkan harga jual untuk menutup kenaikan biaya tersebut. "Saya baru saja mewawancarai UKM produsen keripik tempe. Karena harga plastik kemasan naik, harga jual keripik ikut naik sekitar 20 persen," ujarnya.

 

Baca Juga: Harga Avtur Meroket, Pemerintah Gelontorkan Subsidi Tiket

 

Jika kenaikan harga kemasan terjadi secara luas, berbagai produk konsumsi berpotensi terkerek. Kondisi tersebut dapat memicu inflasi sekaligus menekan daya beli masyarakat. "Kalau harga barang meningkat, inflasi bisa naik dan daya beli masyarakat menurun," tambahnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Rifelly menilai pemerintah perlu melakukan intervensi kebijakan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, pemerintah dapat memperketat pengawasan rantai pasok bahan baku plastik untuk mencegah praktik penimbunan.

Sementara dalam jangka panjang, pemerintah mempercepat penggunaan bahan alternatif pengganti plastik serta memperkuat sistem daur ulang guna mendorong ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.

 

Industri Kemasan Mulai Waspada

Di sisi industri, pelaku usaha kemasan juga mulai mencermati perkembangan harga bahan baku. Komisaris PT Trias Sentosa Tbk Sugeng Kurniawan mengatakan, konflik geopolitik di Timur Tengah mulai mengubah dinamika industri kemasan. Menurut dia, sebelum krisis geopolitik muncul, industri sempat mengalami kelebihan pasokan bahan baku karena permintaan dari produsen fast moving consumer goods (FMCG) menurun. "Selama kuartal I tahun ini penjualan kemasan sebenarnya cukup baik karena momentum Lebaran yang mendorong permintaan FMCG," ujarnya.

Sekarang, pelaku industri mulai mengamankan pasokan bahan baku untuk mengantisipasi kenaikan harga. Namun jika harga minyak bumi global terus meningkat, tekanan terhadap industri kemasan akan semakin besar.

"Kalau harga kemasan naik, otomatis harga produk ikut naik. Apalagi kalau daya beli masyarakat melemah, industri bisa tertekan," jelasnya.

 

Bahan Baku Terkerek 150 Persen

Tekanan juga dirasakan industri tinta cetak yang menjadi bagian penting dalam rantai industri kemasan. Ketua Perhimpunan Industri Tinta Cetak Seluruh Indonesia Daniel Kenny mengatakan, sebagian pelaku industri masih memiliki stok bahan baku hingga April. Setelah itu, situasinya masih sulit diprediksi.

"Saat ini sudah ada pemasok bahan baku yang menaikkan harga hingga 50 persen. Dalam kondisi ekstrem, kenaikan harga bahan baku bisa mencapai 150 persen. Padahal, industri tinta dan kemasan lokal sudah menghadapi tekanan dalam beberapa tahun terakhir. (bry/bil/dio)

Editor : Pratama Karamoy
#Nasional