JAKARTA – Kenaikan harga plastik tak hanya menekan industri, tetapi juga mulai berdampak ke harga kebutuhan pokok. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui mahalnya kemasan berbasis plastik menjadi salah satu faktor pendorong naiknya harga minyak goreng. Selain itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penggunaan kertas sebagai alternatif di sektor makanan dan minuman (mamin).
Mendag menegaskan, ketersediaan minyak goreng sebenarnya masih aman. Namun, biaya produksi meningkat akibat lonjakan harga plastik. "Stok tidak ada masalah. Tapi memang salah satu imbas kenaikan harga karena plastik," ujarnya di Jakarta kemarin (22/4).
Menurut Budi, sebagian besar minyak goreng menggunakan kemasan plastik. Karena itu, kenaikan harga bahan baku di hulu langsung berdampak pada biaya produksi dan harga jual di tingkat konsumen. "Rata-rata kemasan dari plastik semua. Jadi tekanannya dari hulunya," katanya.
Baca Juga: Trump Perpanjang Gencatan Senjata
Sementara itu, Kemenperin mendorong pelaku industri makanan dan minuman (mamin) mulai beradaptasi. Salah satunya dengan beralih ke kemasan berbasis kertas sebagai alternatif. "Kami mendorong kemasan berbasis kertas karena masih banyak industri yang bisa memanfaatkannya," ujar Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika.
Saat ini, plastik masih mendominasi kemasan industri mamin dengan porsi sekitar 48 persen. Sementara kemasan kertas berada di kisaran 28 persen. Meski dinilai lebih kompetitif dari sisi biaya, pengembangan kemasan kertas masih bergantung pada kesiapan industri dan investasi. "Ini berpotensi menjadi game changer," imbuhnya. (bry/dio)
Editor : Pratama Karamoy