PACITAN - Pada Sabtu (16/5) lalu, sebanyak 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Jawa Timur dan Jawa Tengah diresmikan secara serentak dalam acara yang dipusatkan di Nganjuk. Sebanyak 530 koperasi di antaranya berada di Jawa Timur. Namun, sebulan setelah diresmikan, sebagian gerai KDMP belum beroperasi normal. Bahkan, ada yang masih tutup total. Selain itu, sejumlah gerai juga menjadi sorotan karena digunakan untuk kegiatan lain.
Salah satunya terjadi di KDMP Desa Wonokarto, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Gerai tersebut menjadi perhatian publik setelah digunakan untuk resepsi pernikahan. Dalam video pendek yang beredar di media sosial (medsos), area gedung KDMP itu didekorasi layaknya lokasi resepsi. Tampak tamu undangan dan panitia memadati gedung tersebut. Video itu pun memicu beragam tanggapan dari masyarakat.
Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Wonokarto Muhsin memberikan klarifikasi. Dia menyebut bangunan tersebut belum resmi diserahterimakan. Karena itu, pihak desa meminta izin kepada pelaksana proyek agar gedung dapat digunakan warga untuk menggelar resepsi. "Sebetulnya bangunan itu belum serah terima. Tetapi saya izin kepada pihak CV, dan diperbolehkan," kata Muhsin saat dikonfirmasi kemarin (11/6).
Baca Juga: Pertamax Naik, Mobil Listrik Makin Dilirik
Di Daerah Lain
Di Bangkalan, terdapat lima KDMP yang ikut diresmikan. Hingga kini, seluruhnya belum beroperasi. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop Umdag) Bangkalan Moh. Rasuli mengaku sampai saat ini belum ada satu pun KDMP yang beroperasi karena kendala pendanaan. "Kami masih menunggu petunjuk resmi dari pemerintah pusat untuk pengoperasian KDMP yang telah diresmikan," katanya.
Dia memastikan pemkab telah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung operasional KDMP di seluruh desa di Bangkalan, mulai dari pengurus hingga pengawas. Situasi serupa juga terjadi di daerah lain. Di Jombang, mayoritas koperasi masih belum beroperasi. Sementara di Kediri, muncul video yang juga menjadi sorotan publik. Sebuah gerai KDMP telah dibuka, tetapi kondisinya masih sangat sederhana dengan jumlah barang dagangan yang terbatas. (hyo/den/za/jup/ris)
Editor : Pratama Karamoy