JAKARTA – Keluhan dan kekhawatiran terhadap pemadaman listrik bergilir belum mereda. Masyarakat lintas kabupaten/kota mempertanyakan sampai kapan byar-pet bakal berlangsung. Pada Sabtu (20/6) malam, misalnya, kawasan pusat kota Klaten, Jawa Tengah, gelap gulita akibat pemadaman tanpa pemberitahuan. Raras Ciptaning Tyas, seorang pengusaha suvenir, warga Desa Semangkak, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, khawatir jika pemadaman listrik sering terjadi bakal mengganggu proses produksinya. "Hampir semua kerjaan pakai alat yang butuh listrik, mulai dari desain pakai laptop dan wifi. Termasuk bikin konten yang butuh lighting, sampai bikin craft yang harus pakai lem tembak," ujar Raras yang tempat tinggalnya terkena pemadaman dari pukul 17.22 sampai 19.00 itu kepada Radar Solo Grup Jawa Pos.
Pemadaman pada Sabtu (20/6) pagi sampai siang (09.00-13.30) di Pasar Besar Malang, Jawa Timur, juga membuat sebagian pedagang memilih pulang. "Mayoritas pedagang makanan. Kulkas untuk menyimpan bahan mati, otomatis bila dibiarkan terlalu lama, pedagang khawatir kualitas bahan-bahan akan menurun," kata Wakil Ketua Himpunan Pedagang Pasar Besar Malang Agus Priambodo.
Keluhan serupa disampaikan Kayla Andini, mahasiswi yang tinggal di kawasan Pringwulung, Condongcatur, Sleman, Jogjakarta. Ia mengaku telah mengalami pemadaman sebanyak tiga kali dalam beberapa hari terakhir. Pemadaman terakhir terjadi Kamis (19/6) sekitar pukul 15.00 dan listrik baru kembali menyala sekitar pukul 18.30. "Sehari itu sempat mati dua kali. Satunya jam 11 siang, mati listrik setengah jam, satunya jam 3 sore, sampai habis Maghrib," ujarnya kepada Radar Jogja Grup Jawa Pos.
Dari Jakarta, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak Presiden Prabowo Subianto turun tangan menyelesaikan persoalan pemadaman listrik bergilir yang masih terjadi di sejumlah daerah. YLKI menilai gangguan listrik berulang bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan telah menyentuh kepentingan mendasar masyarakat sebagai konsumen.
YLKI juga menyoroti kewajiban PLN memberikan kompensasi kepada pelanggan terdampak apabila durasi dan frekuensi pemadaman telah memenuhi ketentuan Tingkat Mutu Pelayanan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2 Tahun 2025. "Hak konsumen atas kompensasi harus diberikan secara transparan dan otomatis, bukan menunggu masyarakat mengajukan keluhan," kata Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo kepada Jawa Pos kemarin (21/6). Rio menyebut blackout yang terjadi di Sumatera pada 22 Mei lalu sebagai contoh kejadian yang harus diberi kompensasi. "Itu harus ada kompensasi ke konsumen secara langsung, konsumen nggak perlu mengemis meminta kompensasi/ganti rugi," katanya. YLKI mengingatkan, kalau pemadaman terus terjadi tanpa perbaikan sistemik dan pemenuhan hak-hak konsumen, mereka siap menempuh langkah hukum. "Negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu menghasilkan listrik, tetapi negara yang mampu menjamin rakyatnya mendapatkan energi yang andal, adil, dan berkelanjutan," kata Rio.
Baca Juga: Dewan Soroti Banyak Gerai KDKMP Tak Strategis
Kurang 18 Juta Ton Batu Bara
Di tengah desakan YLKI, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah bukan disebabkan kekurangan pasokan energi primer, khususnya batu bara. Pemerintah, kata dia, bahkan telah menyiapkan pasokan batu bara melebihi kebutuhan tahunan PT PLN (Persero). Bahlil mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo. Berdasarkan data Kementerian ESDM, kebutuhan batu bara PLN mencapai 154 juta ton per tahun.
Pemerintah, kata Bahlil, telah memberikan penugasan kepada perusahaan tambang untuk memasok batu bara sebesar 180 juta hingga 190 juta ton. "Yang sudah dikontrak itu 134 juta ton, artinya tinggal sekitar 18 juta kan? Di mananya ada kekurangan. Teknisnya, untuk sampai di power plant-nya itu sudah teknis manajemen logistik PLN," terang Bahlil.
Sebelumnya, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan ada dua faktor utama yang menjadi pemicu krisis pasokan listrik saat ini, yakni terganggunya pasokan batu bara berkalori menengah (medium range coal) yang menjadi bahan bakar utama pembangkit, serta kendala teknis operasional pada dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap skala besar milik swasta yang selama ini menjadi mitra utama pasokan listrik PLN. "Pertama-tama kami atas nama PT PLN (Persero) ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya karena Pulau Jawa mengalami pemadaman bergilir. Kami memahami kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dengan adanya peristiwa ini," kata Darmawan dalam unggahan video di Instagram @pln_id pada Sabtu (20/6).
Sementara itu, PLN mengimbau pelanggan memanfaatkan fitur "Cek Padam Sekitar Saya" pada aplikasi PLN Mobile. Masyarakat juga disarankan segera mencabut kabel peralatan elektronik seperti televisi, kulkas, laptop, dan mesin cuci dari stop kontak saat terjadi pemadaman mendadak guna menghindari kerusakan akibat lonjakan arus ketika listrik kembali menyala. (bry/ren/mel/iza/ttg)
Editor : Pratama Karamoy