Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Xabi Alonso hadapi tekanan besar usai Real Madrid alami kegagalan total di musim perdananya

Toar Rotulung • 2025-07-11 20:52:55

Pelatih Real Madrid Xabi Alonso.
Pelatih Real Madrid Xabi Alonso.

JAGOSATU.COM - Real Madrid mengawali musim 2024/25 dengan harapan besar. Sang presiden klub, Florentino Pérez, menargetkan Los Blancos untuk tampil di final Piala Dunia Antarklub 2025 turnamen bergengsi yang kini diperluas menjadi ajang global bergengsi setara Liga Champions.

Demi ambisi tersebut, klub melakukan perombakan besar. Xabi Alonso ditunjuk sebagai pelatih anyar, menggantikan Carlo Ancelotti. Nama-nama besar seperti Trent Alexander-Arnold dan Dean Huijsen juga direkrut untuk memperkuat skuad, terutama di lini belakang yang selama ini kerap dikritik.

Namun, apa yang terjadi di lapangan jauh dari ekspektasi. Madrid hanya mampu meraih dua trofi kecil, yaitu Piala Super UEFA dan Piala Interkontinental. Kekalahan memalukan 0-4 dari PSG di semifinal Piala Dunia Antarklub menjadi titik nadir yang memperlihatkan kesenjangan kualitas Madrid dibanding klub-klub elite Eropa lainnya.

Dalam wawancara dengan media Spanyol, analis sepak bola Javier Oliva menyebut bahwa kegagalan ini bukan semata karena kurangnya pemain bintang. "Masalahnya ada di struktur permainan. Madrid terlalu sering berubah formasi, tidak punya identitas yang jelas," ujarnya.

Statistik musim ini pun mendukung pernyataan tersebut. Real Madrid memainkan total 68 pertandingan resmi—jumlah terbanyak dalam sejarah klub—namun juga mencatat rekor pertahanan terburuk dalam dua dekade terakhir. Sebanyak 84 gol bersarang ke gawang mereka, menyamai rekor buruk musim 1998/99, meskipun saat itu jumlah laga jauh lebih sedikit.

Rata-rata kebobolan 1,24 gol per laga menunjukkan bahwa lini pertahanan Madrid tak lagi menjadi tembok kokoh seperti era Sergio Ramos. Cedera yang menimpa bek utama membuat pelatih harus bereksperimen dengan menempatkan gelandang seperti Camavinga, Valverde, dan Tchouaméni sebagai bek dadakan.

Kondisi ini membuat Madrid kehilangan arah. Mantan pemain dan kini pelatih Xabi Alonso bahkan mengakui dalam sesi konferensi pers bahwa “butuh waktu dan kestabilan untuk membentuk ulang identitas tim ini.” Namun waktu tampaknya habis terlalu cepat untuk musim ini.

Lebih buruk lagi, musim ini menjadi musim dengan jumlah kekalahan terbanyak sejak kepergian Cristiano Ronaldo pada 2018. Total 15 kekalahan diderita Madrid, termasuk kegagalan bersaing di LaLiga, tersingkir dini dari Liga Champions, dan tampil mengecewakan di Piala Super Spanyol.

Para pendukung pun mulai mempertanyakan arah baru klub. Sergio Morales, seorang fan garis keras Madrid, mengatakan, “Kami mengerti ini masa transisi, tapi Real Madrid bukan klub biasa. Kegagalan seperti ini tidak bisa diterima tanpa evaluasi menyeluruh.”

Musim 2024/25 berakhir tanpa kejayaan yang dijanjikan. Ambisi tinggi Real Madrid berbalik menjadi tekanan berat untuk manajemen dan staf pelatih. Banyak pihak kini menantikan bagaimana langkah Florentino Pérez dan Xabi Alonso menanggapi kegagalan ini demi membangun kembali kejayaan yang hilang. (Tor)

Editor : Toar Rotulung
#Real Madrid #xabi alonso #Piala Dunia Antar Klub 2025