Arkeologi Bali Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Jawa Kalimantan Kesehatan Lifestyle & Hiburan Maluku Nasional Nusa Tenggara Timur Olahraga Papua Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Adhyaksa FC, Stadion Klabat, dan Kesempatan yang Lewat Oleh: Baso Affandi

Hairil Paputungan • Jumat, 12 Juni 2026 | 15:16 WIB

 

Baso Affandi
Baso Affandi

 

 

JAGOSATU.COM - Ada kalimat sederhana dalam postingan bung Hairil Paputungan dini hari tadi di wall Facebook yang memancing saya sedikit meramu tulisan ini. Sebagai pecinta, pengamat bahkan pernah penurus federasi dan official di club bola ini menulis:

"Yaaa... batal deh nonton Liga Super Indonesia di Stadion Klabat musim depan."

Kalimat itu terdengar ringan.  Bahkan mungkin sekadar ungkapan kekecewaan seorang suporter.  Namun jika dicermati lebih dalam, sesungguhnya kalimat tersebut menyimpan sebuah pertanyaan besar tentang bagaimana sebuah daerah memandang sepak bola di era modern.  Karena yang hilang bukan sekadar tontonan sepak bola.

Memang, orang sedang demam sepakbola dunia apalagi Piala Dunia 2026 akan mulai bergulir nanti subuh. Tapi, tulisan ini menyentuh sepakbola lokal Sulut, yang notabene dekat dengan publik dan fans bola Nyiur Melambai. Itulah alasan kuat saya mencoba mengulas dengan versi lokal. 

Yang mungkin hilang adalah sebuah kesempatan ekonomi, kesempatan investasi, kesempatan promosi daerah, dan kesempatan menjadikan Sulut sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri olahraga nasional.

Kabar bahwa Adhyaksa FC akhirnya memilih Palangkaraya sebagai home base dibanding Sulut tentu layak menjadi bahan refleksi bersama. Terlebih karena informasi yang berkembang menunjukkan bahwa sebelumnya terdapat komunikasi dan penjajakan agar klub tersebut menjadikan Stadion Klabat Manado sebagai kandang mereka pada musim kompetisi mendatang. Dan itu di Liga Super. Kompetisi tertinggi di Indonesia. Bukan level Liga 4.

Namun pada akhirnya pilihan jatuh ke daerah lain.  Dalam dunia bisnis, ketika investor datang menawarkan investasi lalu memilih pergi, biasanya ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Demikian pula dalam dunia sepak bola profesional.

Competitive Advantage

Dalam teori Competitive Advantage yang diperkenalkan oleh Michael Porter, keberhasilan sebuah wilayah dalam menarik investasi sangat ditentukan oleh kemampuannya menciptakan keunggulan kompetitif dibanding daerah lain.

Keunggulan kompetitif tidak selalu berarti uang.

Kadang-kadang justru berupa Kemudahan regulasi.  Dukungan pemerintah.  Kepastian penggunaan fasilitas.  Kepastian bisnis.  Ekosistem yang mendukung.

Investor olahraga pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan investor sektor lainnya.  Mereka mencari daerah yang memberikan kepastian.

Mereka ingin mengetahui:

"Apakah kami diterima?"

"Apakah pemerintah mendukung?"

"Apakah stadion tersedia?"

"Apakah ada pasar?"

"Apakah ada prospek jangka panjang?"

Jika jawaban atas pertanyaan tersebut tidak cukup meyakinkan, maka investor akan mencari wilayah lain yang lebih siap, dalam konteks ini, Palangkaraya tampaknya berhasil memberikan keyakinan yang lebih besar dibanding Sulawesi Utara.

Sepak Bola Bukan Lagi Olahraga, Tetapi Industri

Banyak pemerintah daerah di Indonesia masih melihat sepak bola sebagai aktivitas olahraga yang membutuhkan biaya.

Padahal paradigma itu sudah lama berubah.

Menurut teori Sport Business Ecosystem yang banyak dikembangkan oleh para ekonom olahraga modern, klub profesional merupakan pusat aktivitas ekonomi yang menciptakan nilai tambah bagi berbagai sektor sekaligus.

Sebuah pertandingan sepak bola tidak hanya menghasilkan skor.

Ia menghasilkan transaksi.

Ia menghasilkan perjalanan wisata.

Ia menghasilkan okupansi hotel.

Ia menghasilkan konsumsi restoran.

Ia menghasilkan aktivitas UMKM.

Ia menghasilkan eksposur media.

Ia menghasilkan promosi daerah.

Karena itu banyak kota di dunia berlomba-lomba menarik klub profesional untuk bermarkas di wilayah mereka.

Bukan karena cinta sepak bola semata.

Tetapi karena mereka memahami nilai ekonominya.

Football Club as Economic Anchor

Ekonom perkotaan sering menggunakan konsep Economic Anchor Institution, yaitu lembaga yang menjadi jangkar aktivitas ekonomi suatu wilayah.

Biasanya istilah ini digunakan untuk universitas besar atau rumah sakit besar.

Namun dalam perkembangan modern, klub sepak bola profesional juga telah menjadi economic anchor.

Contohnya dapat dilihat pada:

Manchester City di Manchester.

Liverpool FC di Liverpool.

Borussia Dortmund di Dortmund.

Klub-klub tersebut bukan hanya tim sepak bola.

Mereka menjadi mesin ekonomi kota.

Yang terdekat, ambil contoh Persib Bandung.

Mereka menggerakkan sektor pariwisata, perdagangan, transportasi, dan investasi.

Pertanyaannya :

Mengapa Sulawesi Utara tidak mulai berpikir ke arah yang sama ?

Kehilangan yang Tak Kasat Mata

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa kegagalan menjadikan Adhyaksa FC bermarkas di Manado bukan persoalan besar.

Toh klub tersebut bukan klub asal Sulut. Klub ini bentukan para jaksa se Indonesia, dan menang play off lawan Persipura di Championship League (dulu Liga 2), untuk promosi ke Liga Super Indonesia. 

Namun pendekatan seperti ini terlalu sempit.

Dalam ilmu ekonomi terdapat istilah Opportunity Cost yang diperkenalkan oleh Friedrich von Wieser.

Opportunity cost adalah nilai dari peluang yang hilang karena suatu pilihan tidak diambil.

Yang hilang dari kegagalan ini bukan hanya pertandingan sepak bola.

Yang mungkin hilang adalah :

Ribuan pengunjung setiap musim.

Ratusan kamar hotel terisi.

Aktivitas UMKM di sekitar stadion.

Kontrak sponsor lokal.

Aktivitas media nasional.

Promosi pariwisata Sulawesi Utara.

Dan semua itu sulit dihitung hanya dengan angka sederhana.

 

Mengapa Palangkaraya Berhasil ?

Tentu hanya manajemen Adhyaksa FC yang mengetahui alasan final mereka.

Namun dari perspektif strategi olahraga, ada teori yang relevan untuk menjelaskan fenomena ini.

Teori tersebut adalah Resource-Based View (RBV) yang dikembangkan oleh Jay Barney.

RBV menjelaskan bahwa organisasi akan memilih lokasi yang memberikan sumber daya terbaik untuk mencapai tujuan mereka.

Sumber daya tersebut bisa berupa :

Dukungan pemerintah.

Infrastruktur.

Kemudahan operasional.

Dukungan masyarakat.

Kemudahan pengembangan bisnis.

Jika Palangkaraya dinilai lebih siap dalam menyediakan faktor-faktor tersebut, maka keputusan berpindah ke sana menjadi sesuatu yang logis dari sudut pandang manajemen klub.

Dalam bisnis olahraga profesional, keputusan emosional hampir selalu kalah oleh keputusan strategis.

Ironi Stadion Klabat

Di sinilah letak ironi yang menarik.

Sulawesi Utara memiliki Stadion Klabat yang historis.

Memiliki masyarakat yang mencintai sepak bola.

Memiliki basis penonton yang cukup besar.

Memiliki akses penerbangan yang relatif baik.

Memiliki daya tarik wisata yang kuat.

Tetapi ketika peluang menghadirkan klub Liga Super muncul, peluang itu justru tidak berhasil diwujudkan.

Padahal banyak daerah lain di Indonesia saat ini justru berlomba-lomba mencari klub profesional agar dapat menjadikan stadion mereka hidup.

Karena stadion tanpa pertandingan hanyalah bangunan.

 

Stadion baru bernilai ketika ada aktivitas yang menghidupkannya.

Pelajaran Strategis bagi Sulawesi Utara

Dalam teori strategi sepak bola modern yang dikembangkan oleh pelatih legendaris Rinus Michels, kemenangan tidak ditentukan oleh satu pemain saja, tetapi oleh koordinasi seluruh elemen tim.

Prinsip yang sama berlaku dalam pembangunan sepak bola daerah.

Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.

Asosiasi sepak bola tidak bisa bekerja sendiri.

Pengusaha tidak bisa bekerja sendiri.

Komunitas suporter tidak bisa bekerja sendiri.

Semua harus bergerak dalam satu strategi besar.

Karena sepak bola modern adalah ekosistem.

Dan ekosistem hanya bekerja ketika seluruh komponennya saling mendukung.

Bukan Akhir Cerita

Kegagalan Adhyaksa FC bermarkas di Sulawesi Utara tentu bukan akhir dari segalanya.

Namun peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bahwa daerah lain bergerak lebih cepat dalam melihat sepak bola sebagai industri.

Sementara kita masih sibuk memperdebatkan sepak bola sebagai beban atau hiburan semata.

Padahal dunia sudah berubah.

Sepak bola hari ini adalah investasi.

Sepak bola adalah ekonomi.

Sepak bola adalah pariwisata.

Sepak bola adalah diplomasi daerah.

Sepak bola adalah branding wilayah.

Dan ketika sebuah klub Liga Super memilih daerah lain sebagai rumahnya, yang sesungguhnya berpindah bukan hanya sebuah tim.

Yang ikut berpindah adalah peluang ekonomi yang menyertainya.

Karena itu, ketika musim depan layar televisi menampilkan pertandingan Adhyaksa FC dari Palangkaraya, mungkin sebagian pecinta sepak bola Sulawesi Utara akan kembali berkata dengan nada bercanda :

"Yaaa... batal deh nonton Liga Super di Klabat."

Namun bagi mereka yang memahami ekonomi olahraga modern, kalimat itu sesungguhnya jauh lebih dalam dari sekadar keluhan suporter.  Semua itu adalah catatan tentang sebuah peluang yang datang, mengetuk pintu, lalu memilih pergi karena merasa ada tempat lain yang lebih siap menerimanya.

***Penulis adalah warga Manado, Sulut.

Editor : Hairil Paputungan
#Tulisan Sepakbola