Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Perwakilan Indonesia di Google Solution Challenge 2023, 4 Mahasiswa Binus Ciptakan Alat Baca Braille

Alfianne Lumantow • 2023-08-03 09:32:40
Solusi pembaca braille bikinan mahasiswa Bina Nusantara masuk 10 besar Google Solution Challenge 2023.
Solusi pembaca braille bikinan mahasiswa Bina Nusantara masuk 10 besar Google Solution Challenge 2023.

JAGOSATU.com - Empat mahasiswa dari Bina Nusantara (Binus) International telah berhasil mencapai tahap 10 besar dalam program Google Solution Challenge 2023. Mereka adalah satu-satunya perwakilan dari Indonesia dalam kompetisi ini.

Keempat mahasiswa Binus International tersebut bernama Philipus Adriel Tandra (19 tahun), Aric Hernando (21 tahun), Jason Jeremy Wijadi (21 tahun), dan Jason Christian Hailianto (21 tahun), semuanya berasal dari Jakarta.

Dalam rangka program Google Solution Challenge 2023, kelompok mahasiswa ini dinamai Wonder Reader. Mereka telah mengembangkan sebuah alat baca huruf Braille. Dalam pembuatan alat pembaca Braille ini, Wonder Reader menggunakan Jetpack Compose, Firebase, dan Google Cloud Text to Speech.

Baca Juga: Justin Trudeau PM Kanada dan Ibu Negara Berpisah Setelah 18 Tahun Menikah

"Para guru dapat langsung memasukkan soal ke dalam aplikasi di smartphone atau laptop, yang kemudian terhubung ke alat pembaca Braille. Ini memungkinkan siswa membaca dan mengetik jawaban mereka dalam tulisan Braille pada alat tersebut," ujar Jason Christian, salah satu anggota dari Wonder Reader.

Anggota lain dari Wonder Reader, Jason Jeremy, menambahkan bahwa mereka memilih platform Android sebagai dasar pengembangan alat pembaca Braille ini. Android mempermudah operasional alat ini, dengan banyak alat bantu yang tersedia bagi para pengembang.

Selain itu, jumlah pengguna smartphone Android di Indonesia sangat besar, terutama di daerah. "Kami berharap alat ini akan sangat bermanfaat bagi pendidik di daerah," ungkap Jason Jeremy.

Melalui Google Developer Students Club, Tim Wonder Reader mendapat kesempatan untuk bertemu dengan mentor dan ahli yang membimbing serta memastikan perkembangan produk sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

GDSC juga menghubungkan peserta dengan organisasi-organisasi terkait yang memberikan inspirasi dan masukan untuk mengembangkan alat pembaca Braille.

Regional Lead SEA Google Developer Relations Ecosystem, Janise Tan, menjelaskan bahwa Google Solution Challenge adalah kompetisi tahunan yang mengajak mahasiswa untuk menciptakan solusi bagi permasalahan di komunitas lokal dengan memanfaatkan produk dan teknologi Google.

"Kami telah mengadakan Solution Challenge selama empat tahun, dan kami melihat antusiasme dan partisipasi yang luar biasa dari para developer pelajar di seluruh Asia Tenggara," ungkap Janise melalui pernyataannya.

Program Google Solution Challenge merupakan bagian dari Google Developer Students Club (GDSC) yang bertujuan untuk menciptakan solusi bagi masalah lokal sesuai dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dengan memanfaatkan teknologi Google.

Hari ini, tanggal 3 Agustus 2023, GDSC akan memilih tiga tim teratas untuk berpartisipasi dalam sesi Demo Day. Dalam 10 besar ini, tim Wonder Reader dari Indonesia akan bersaing dengan peserta dari negara lain.

Di kawasan Asia-Pasifik, peserta dari Singapura, India, dan dua perwakilan dari Korea Selatan juga berhasil masuk ke 10 besar.

Sementara itu, Yayasan Mitra Netra memberikan tanggapan positif terhadap Wonder Reader. Mereka diberi kesempatan untuk mencoba langsung alat pembaca Braille yang telah dikembangkan.

Suryo Pramono, salah satu staf pengajar komputer untuk tunanetra di Mitra Netra, merasakan potensi besar dari alat pembaca Braille ini dalam meningkatkan aktivitas belajar bagi tunanetra.

Alat ini dianggap lebih interaktif dan menarik bagi tunanetra maupun mereka yang memiliki gangguan pendengaran di daerah.

Baca Juga: Drone Besar Buatan China Digunakan untuk Dukung Penyelamatan di Daerah Terdampak Topan

Apabila berhasil, alat pembaca Braille yang dirancang oleh Wonder Reader nantinya akan diproduksi secara massal. Keberhasilan ini akan menjadi bagian dari kontribusi anak-anak bangsa. Tunanetra yang membutuhkan alat pembaca Braille tidak perlu lagi mengeluarkan biaya mahal untuk impor.

Suryo Pramono, salah satu staf pengajar komputer untuk tunanetra di Mitra Netra, merasakan potensi tinggi yang dihadirkan alat untuk menciptakan aktivitas belajar alat baca tersebut. Alat itu dianggap lebih interaktif dan menyenangkan bagi rekan tunanetra maupun tunanetra dengan tunarungu di daerah.

Jika berhasil, alat pembaca Braille karya Wonder Reader akan diproduksi secara masal. Kehadiran alat itu setidak bagian dari karya anak bangsa. Tunanetra yang membutuhkan alat baca Braille pun tidak lagi harus membeli mahal karena harus impor. (JPG)

Editor : Alfianne Lumantow
#Google #tuna netra #binus #Mahasiswa #Braile