JAGOSATU.COM - Proses berita telah mengalami transformasi signifikan berkat kehadiran kecerdasan buatan (AI).
Dengan menggunakan Generative AI, baik wartawan maupun individu awam kini dapat dengan mudah meminta AI untuk membuat teks, audio, dan video.
Meskipun masih belum lazim saat ini, praktik semacam ini berpotensi menjadi umum di masa depan seiring dengan kemajuan Generative AI.
AI menjadi topik pembicaraan utama dalam berbagai forum dan diskusi global mengenai jurnalisme, termasuk dalam kongres tahunan Asosiasi Wartawan Eropa (AEJ) di Albania dan World Media Summit di Guangzhou, Tiongkok, pada 1-7 Desember.
Diskusi seputar AI fokus pada potensi besar yang dimilikinya untuk mengubah secara drastis pola produksi, konsumsi, dan bisnis berita.
Sue Brooks, Kepala Kantor Berita Reuters, menyatakan, "Tidak lama lagi cara kita membuat berita akan berubah drastis, begitu pula cara orang mengonsumsi berita, dan hubungan antara brand dan audiens."
Namun, bersamaan dengan potensi positifnya, AI juga dianggap sebagai ancaman bagi dunia jurnalistik dan bisnis media, memunculkan dilema moral dan etika.
Salah satu keprihatinan utama adalah hubungan AI dengan konsep kebenaran.
Dalam era post-truth seperti sekarang, di mana sulit membedakan antara informasi yang benar dan tidak, AI berpotensi meredefinisi makna kebenaran.
Permasalahan semakin rumit jika AI menyortir dan menyebarkan informasi dari miliaran data dalam "big data" dengan cara yang tidak akurat, terutama karena digitalisasi memberikan kebenaran yang ditentukan oleh informasi yang paling populer, menurut algoritma.
Di tengah perspektif yang melihat otomatisasi sebagai peluang untuk menciptakan proses produksi yang lebih murah, namun lebih menguntungkan, AI menjadi elemen kunci.
Namun, paradoksnya, situasi ini diperkuat oleh ekosistem bisnis media saat ini yang lebih memprioritaskan konten sederhana yang populer daripada konten yang dihasilkan melalui proses panjang dan mahal, seperti liputan investigatif.
Baca Juga: Sheffield United Terperosok di Dasar Klasemen Usai Dua Gol Bunuh Diri
Kondisi ini mendorong media untuk mengadaptasi strategi seperti clickbait, yang sebenarnya muncul sebagai respons terhadap dominasi algoritma yang menilai konten berdasarkan popularitas.
Ketidakseimbangan antara direct traffic (kunjungan langsung ke laman berita) dan organic traffic (kunjungan melalui mesin pencari) menjadi kunci dalam mengamati dinamika lalu lintas web di berbagai laman berita.
Meskipun keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan, seimbangnya keduanya memungkinkan media menjaga kualitas produk tanpa mengorbankan profitabilitas finansial.
Namun, mencapai keseimbangan ini membutuhkan infrastruktur teknologi, sistem pemasaran, dan struktur keuangan yang kuat, yang tidak selalu dimiliki oleh banyak media.
Keterbatasan permodalan mendorong media untuk tunduk pada "diktasi" algoritma, yang menghasilkan konten-konten clickbait untuk meningkatkan lalu lintas web.
Dalam menghadapi perubahan paradigma ini, sejumlah media mencoba menyusun panduan etik untuk penggunaan AI, seperti yang dilakukan Associated Press dengan menerbitkan pedoman AI.
Namun, tantangan media tidak hanya dapat diatasi oleh tindakan internal media saja.
Beberapa negara, termasuk Australia, telah membuat terobosan dengan menetapkan undang-undang yang mewajibkan perusahaan-perusahaan mesin pencari dan media sosial membayar fee kepada perusahaan media untuk setiap konten yang mereka gunakan.
Meskipun diakui sebagai langkah positif, tantangan media semakin kompleks dengan kehadiran AI yang terus berkembang.
Perlindungan internal dan eksternal menjadi kunci dalam menghadapi invasi AI yang diyakini akan semakin meluas.
Meskipun terdapat pendekatan yang berbeda, baik melalui panduan etik internal maupun regulasi hukum eksternal, perlindungan ini diperlukan untuk memberikan ruang bagi media dalam menjaga kualitas produk, melawan hoaks, dan mengatasi disinformasi. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey