JagoSatu.com - Kepolisian Belgia mengambil langkah inovatif dalam investigasi kejahatan dengan memanfaatkan teknologi realitas virtual (VR). Dalam upaya memecahkan kasus orang hilang yang telah membingungkan selama 15 tahun, mereka secara harfiah "memutar balik waktu" bagi para tersangka. Metode interogasi menggunakan VR ini terdengar seperti fiksi ilmiah, namun kini menjadi kenyataan untuk mengungkap misteri hilangnya Heidi De Schepper.
Kasus hilangnya De Schepper sendiri adalah teka-teki yang menggugah rasa penasaran. Wanita tersebut menghilang sejak tahun 2010, namun ironisnya, kehilangannya baru dilaporkan tahun lalu. Pada Februari tahun ini, titik terang muncul ketika tiga pria ditangkap, dan dua di antaranya mengakui perbuatan mengerikan: mengubur jenazah De Schepper. Namun, tantangan besar muncul karena waktu yang telah lama berlalu. Ingatan para tersangka mungkin kabur, dan lokasi yang disebutkan sebagai tempat penguburan telah mengalami perubahan signifikan dalam 15 tahun terakhir.
Bayangkan betapa sulitnya mencari titik lokasi tertentu yang digali 15 tahun silam, hanya dengan bermodalkan ingatan, di area yang kini telah berkembang pesat menjadi kawasan industri. Tugas yang nyaris mustahil ini dihadapi oleh polisi Belgia. Namun, mereka tidak menyerah. Mereka beralih ke kekuatan VR sebagai solusi.
Untuk mengatasi jurang waktu 15 tahun ini, tim penyidik memanfaatkan teknologi untuk merekonstruksi ulang lokasi kejadian seperti pada tahun 2010. Kristof Aerts dari Kejaksaan Negeri Antwerp, seperti dilaporkan oleh VRT NWS, menyatakan, "Ini mensimulasikan situasi tahun 2010 seakurat mungkin." Dengan memanfaatkan arsip Google Street View dan data peta historis, mereka menciptakan lingkungan virtual dari kawasan industri tersebut, persis seperti saat De Schepper menghilang.
Teknologi yang digunakan pun bukan teknologi biasa. Ini adalah hasil inovasi dari XR Labs, sebuah laboratorium di bawah naungan Kepolisian Federal dan Kementerian Pertahanan Belgia. Inovasi ini menunjukkan bagaimana teknologi kepolisian kini mampu membawa kita "kembali ke masa lalu," setidaknya secara visual, untuk kepentingan investigasi.
Selama proses interogasi, para tersangka dipasangkan perangkat VR dan dibawa masuk ke dalam lanskap digital tahun 2010 tersebut. Harapannya adalah, dengan bernavigasi di ruang virtual ini, ingatan mereka akan terpicu kembali, sehingga mereka dapat menunjukkan lokasi penguburan dengan lebih tepat. Polisi pada dasarnya memberikan perspektif orang pertama kepada para tersangka mengenai tindakan mereka di masa lampau, dengan harapan dapat mengungkap detail penting yang mungkin terkubur dalam ingatan mereka.
Penggunaan VR dalam penegakan hukum sebenarnya bukan hal baru, karena telah dimanfaatkan untuk pelatihan dan pemetaan tempat kejadian perkara. Namun, penerapan VR untuk mencari jenazah dalam kasus ini adalah sebuah terobosan. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah pendekatan berteknologi tinggi ini akan membuahkan hasil dalam kasus Heidi De Schepper? Pencarian di lokasi baru kini tengah dilakukan berdasarkan petunjuk yang diperoleh dari interogasi VR.
"Lokasi yang akan kami gali kali ini adalah area yang belum pernah diselidiki sebelumnya," kata Kristof Aerts, menekankan betapa krusialnya pencarian dengan panduan VR ini bagi kelanjutan investigasi, seperti yang dikutip oleh VRT NWS. Meski peluangnya tipis, jika berhasil, kasus ini berpotensi mengubah paradigma penggunaan VR dalam memecahkan kasus-kasus lama dan mengungkap rahasia yang telah lama terpendam. Ini membuktikan bahwa terkadang, kunci untuk membuka tabir masa lalu justru terletak pada kemajuan teknologi masa depan.
Teknologi VR dalam investigasi kriminal ini tentu menimbulkan berbagai pertanyaan menarik. Bagaimana menurut Anda? Apakah penggunaan VR ini merupakan langkah maju yang menjanjikan dalam penegakan hukum? Atau apakah ada potensi risiko atau pertimbangan etika yang perlu diperhatikan? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung