Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penemuan obat baru dengan bantuan kecerdasan buatan alias AI.
Proyek ini digawangi oleh SandboxAQ, startup yang lahir dari induk Google dan kini telah berdiri sendiri sejak 2022.
Mereka membuat kumpulan data berisi 5,2 juta molekul 3D menggunakan model komputer, bukan eksperimen laboratorium seperti biasanya.
Molekul-molekul ini dihasilkan oleh model AI besar yang berjalan di atas chip Nvidia, yang memang terkenal sebagai otaknya banyak teknologi AI saat ini.
Menurut Reuters, data ini akan digunakan untuk mempercepat proses drug discovery atau penemuan obat baru yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun.
Biasanya, ilmuwan butuh waktu sangat lama untuk menemukan satu jenis obat, bahkan bisa mencapai lebih dari 10 tahun dan dana jutaan dolar.
Namun dengan AI, jutaan molekul bisa diuji secara digital dalam hitungan minggu, tanpa perlu laboratorium fisik untuk tahap awalnya.
Teknologi ini menggunakan pendekatan bernama Large Quantitative Models (LQMs), yaitu model AI besar yang dirancang bukan sekadar memproses kata-kata, tapi juga memahami hukum fisika dan kimia.
Berbeda dengan ChatGPT atau Bard yang disebut sebagai LLM (Large Language Models), LQM fokus pada data ilmiah yang kompleks dan presisi tinggi.
Menurut ITPro, pendekatan LQM diprediksi akan menjadi pilar penting dalam pengembangan solusi medis di masa depan, khususnya karena kemampuannya memahami interaksi molekul secara realistis.
SandboxAQ sendiri sudah mendapat dukungan dana lebih dari 950 juta dolar AS, yang salah satunya berasal dari investor besar seperti Breyer Capital dan juga tentunya Nvidia.
Dataset molekul ini memang dibuka untuk umum, tapi model AI milik SandboxAQ tetap bersifat komersial dan akan dijual ke perusahaan farmasi atau universitas.
Tujuannya jelas: mempercepat tahap awal uji coba obat dan mengurangi ketergantungan pada eksperimen laboratorium yang lama dan mahal.
Dengan pendekatan ini, perusahaan farmasi bisa lebih cepat menemukan senyawa yang cocok dan memperkecil risiko kegagalan di uji klinis.
Data yang mereka buat juga sudah menyertakan struktur molekul dalam bentuk 3 dimensi, yang sangat penting untuk memprediksi apakah suatu senyawa bisa bekerja pada tubuh manusia atau tidak.
Molekul ini dihasilkan lewat simulasi berbasis quantum simulation, yaitu metode fisika yang mencoba memodelkan dunia nyata lewat perhitungan komputer tingkat tinggi.
Semua ini menunjukkan bagaimana kolaborasi teknologi dan kesehatan bisa membawa perubahan besar dalam dunia medis.
Jika sebelumnya penemuan obat bergantung pada waktu dan keberuntungan, kini AI membuatnya jadi lebih cepat, efisien, dan bisa diandalkan. (anl)
Editor : ALengkong