Jagosatu.com-Neni, Direktur Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP), tak pernah membayangkan kritiknya akan memicu badai serangan digital.Ia hanya menggunakan haknya sebagai warga negara untuk mempertanyakan kejelasan anggaran belanja media Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Namun, akibat kritik itu, sebuah unggahan berisi fotonya muncul di akun resmi Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat.
Sejak saat itu, Neni dihujani serangan siber melalui akun Instagram dan TikTok pribadinya.
Ratusan komentar bernada kasar, ancaman intimidatif, dan tuduhan yang menyudutkan membanjiri ruang digitalnya.
Lebih parah lagi, data pribadinya disebarluaskan tanpa persetujuan, memperburuk situasi yang ia hadapi.
Serangan itu dilakukan secara terkoordinasi, melibatkan banyak akun dan berpotensi menyeret keluarganya ke dalam bahaya yang tidak seharusnya mereka alami.
Ironisnya, substansi kritik Neni soal transparansi anggaran justru tenggelam dalam lautan fitnah dan kekerasan daring.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital di Indonesia belum menjadi tempat aman bagi suara-suara kritis, khususnya dari kalangan perempuan.
Apa yang dialami Neni bukan kasus tunggal, karena Fatrisia Ain dari Buol, Sulawesi Tengah, mengalami perlakuan serupa.
Fatrisia adalah seorang aktivis perempuan yang selama ini mendampingi warga menolak ekspansi sawit oleh PT Hardaya Inti Plantation.
Saat suaranya mulai terdengar luas di berbagai forum, gelombang serangan digital pun mulai menghantam dirinya.
Akun anonim menyebarkan tudingan palsu yang mencoreng reputasinya dan mengancam keselamatan keluarganya.
Tekanan psikologis yang berat membuat Fatrisia akhirnya menarik diri dan menghentikan seluruh kegiatan advokasinya.
Padahal semua itu bermula hanya dari satu unggahan kritisnya di media sosial Facebook.
Kisah Neni dan Fatrisia menggambarkan betapa rapuhnya perlindungan bagi para aktivis di ruang maya.
Mereka hanyalah dua dari sekian banyak pejuang lingkungan dan hak warga yang menghadapi kekerasan digital.
Laporan dari organisasi internasional Global Witness menunjukkan bahwa 9 dari 10 aktivis lingkungan mengalami pelecehan daring.
Intimidasi, doxing, dan ancaman kekerasan fisik kini menjadi tantangan nyata dalam perjuangan mereka.
Media sosial seperti Facebook disebut sebagai platform paling rentan yang memfasilitasi kekerasan, khususnya terhadap perempuan muda.(LR)
Editor : ALengkong