Jagosatu.com - Indonesia memulai proyek besar pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik senilai USD 5,9 miliar atau sekitar Rp96 triliun.
Proyek ini akan berlokasi di Pulau Halmahera, Maluku Utara, dan di Jawa Barat.
Menurut Auto Economic Times, proyek ini menjadi salah satu investasi baterai EV terbesar di Asia Tenggara.
Baterai EV sendiri adalah komponen penting yang digunakan untuk menyimpan energi pada mobil listrik.
Pemerintah berharap proyek ini bisa membuat Indonesia jadi pemain utama industri mobil listrik dunia.
Indonesia memang punya cadangan nikel yang sangat besar, bahan utama pembuatan baterai EV.
Dilansir dari Economic Times, cadangan nikel Indonesia adalah yang terbesar di dunia.
Namun, proyek ini tidak lepas dari kontroversi karena ada kekhawatiran soal dampak lingkungan.
Aktivis lingkungan khawatir penambangan nikel akan merusak hutan dan ekosistem laut.
Selain itu, ada kekhawatiran limbah tambang akan mencemari perairan sekitar Halmahera.
Pemerintah menjanjikan pengawasan ketat agar produksi nikel ramah lingkungan.
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan proyek ini akan menciptakan ribuan lapangan kerja baru.
Pabrik ini direncanakan mulai beroperasi penuh pada tahun 2027.
Selain baterai EV, pabrik juga akan memproduksi material pendukung industri kendaraan listrik.
Indonesia bekerja sama dengan sejumlah perusahaan global untuk membangun fasilitas ini.
Produsen baterai besar asal Korea Selatan dan China dikabarkan terlibat dalam proyek ini.
Pemerintah juga mendorong penggunaan teknologi pengolahan nikel yang lebih ramah lingkungan.
Jika berhasil, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor baterai EV.
Proyek ini juga akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.
Namun, para pakar mengingatkan bahwa keberlanjutan lingkungan harus tetap jadi prioritas.
Masyarakat berharap proyek ini membawa manfaat tanpa merusak alam Indonesia.
(db)
Editor : Toar Rotulung