Keputusan ini menuai pro dan kontra di industri fesyen karena menimbulkan pertanyaan tentang masa depan model manusia.
Model AI berambut pirang tersebut tampil dalam beberapa pose untuk mempromosikan koleksi musim panas Guess.
Salah satu fotonya menampilkan tulisan "produced by Seraphinne Valora on AI" yang merujuk pada perusahaan kreatif Seraphinne Valora.
Perusahaan tersebut diketahui mengkhususkan diri dalam menciptakan model dan konten menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Pendiri Seraphinne Valora, Valentina Gonzalez dan Andreea Petrescu, mengungkapkan proyek ini diminta langsung oleh Paul Marciano, co-founder Guess.
Mereka membuat 10 rancangan model AI, dan Marciano memilih satu berambut coklat serta satu berambut pirang untuk dikembangkan.
Proses pembuatan model AI ini tidak sederhana, meskipun banyak orang menganggapnya mudah.
Tim kreatif mereka bahkan mempekerjakan model asli untuk difoto demi memahami bagaimana busana terlihat di tubuh manusia nyata.
Hasil foto model asli ini digunakan sebagai acuan untuk menentukan pose terbaik bagi model AI.
Gonzalez menjelaskan bahwa pemahaman detail seperti pose dan sudut pandang sangat penting untuk menonjolkan produk.
Proses pengerjaan satu model AI dapat memakan waktu hingga sebulan dari ide awal hingga hasil akhir.
Seraphinne Valora mempekerjakan lima karyawan khusus untuk menciptakan model AI ini.
Biaya yang dikenakan untuk klien besar seperti Guess dapat mencapai enam digit.
Penggunaan model AI di industri fesyen bukan hal baru, dengan Mango juga meluncurkan kampanye AI pada Juli 2025.
Teknologi ini mampu memangkas biaya produksi hingga 70 persen dan mempercepat waktu pengerjaan hanya dalam hitungan hari.
Meski begitu, kekhawatiran terhadap model AI dinilai sebagian pihak sebagai ketakutan terhadap perubahan.
Matthew Drinkwater dari Fashion Innovation Agency menilai fesyen memang berkembang melalui disrupsi, bukan mempertahankan status quo.
Namun, muncul pertanyaan besar tentang nasib model manusia di masa depan jika tren ini terus berkembang.
Selain itu, standar kecantikan untuk generasi muda bisa semakin terpengaruh oleh visual buatan yang belum tentu mencerminkan realitas.(LR)