Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Geger! AS Bisa Tolak Masuk Pegawai Teknologi Gara-Gara Visa Baru!

ALengkong • 2025-09-22 14:11:51

Karyawan visa H‑1B buru‑buru kembali ke AS sebelum kebijakan baru diberlakukan
Karyawan visa H‑1B buru‑buru kembali ke AS sebelum kebijakan baru diberlakukan

Jagosatu.com Hari ini muncul kecemasan besar di kalangan pekerja asing di perusahaan teknologi dan keuangan di AS karena kebijakan baru visa H‑1B yang bisa membuat mereka tak bisa kembali ke AS jika berada di luar negeri pada tanggal tertentu. (KT)

Rancangan kebijakan ini diumumkan pada 19 September 2025 oleh Presiden AS yang menetapkan bahwa perusahaan harus membayar US$100.000 untuk permohonan visa H‑1B baru.

Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 21 September 2025 pukul 12:01 pagi waktu AS bagian Timur.

Perusahaan besar seperti Amazon, Google, Microsoft, dan Goldman Sachs langsung mengeluarkan memo mendesak kepada para pegawai asing mereka.

Pegawai H‑1B yang berada di luar negeri disarankan segera kembali ke AS sebelum kebijakan berlaku.

Sementara pegawai yang saat ini sudah berada di AS diminta untuk tidak melakukan perjalanan ke luar negeri dulu.

Perusahaan juga menyarankan agar anggota keluarga yang ikut menggunakan visa H‑4 tetap berada di AS sampai situasi jelas.

Walau ada klarifikasi dari pemerintah bahwa biaya baru ini hanya berlaku untuk permohonan baru, banyak orang tetap panik.

Baca Juga: Ratusan Penerbangan Kacau! Serangan Siber Lumpuhkan Bandara Tersibuk di Eropa

Pasalnya, proses pemeriksaan di bandara atau kantor imigrasi bisa berbeda tergantung interpretasi petugas.

Di beberapa bandara, ada laporan pekerja asing membatalkan penerbangan karena takut ditolak masuk kembali.

Kondisi ini memicu gelombang kepulangan mendadak pekerja H‑1B yang sedang mudik atau liburan.

Pemerintah berdalih bahwa biaya tinggi ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan visa dan meningkatkan kualitas tenaga kerja asing.

Namun, banyak yang menganggap kebijakan ini mendadak, tidak manusiawi, dan membahayakan hubungan global.

Pemerintah India melalui asosiasi teknologi mereka menyatakan kekhawatiran atas gangguan operasional dan pengiriman tenaga kerja ke AS.

Beberapa ahli hukum menyebut bahwa penetapan biaya sepihak ini bisa digugat karena tidak melalui persetujuan legislatif.

Perusahaan teknologi kini harus memberikan bantuan hukum tambahan dan panduan darurat bagi para pekerja asing.

Visa H‑1B sendiri adalah jenis visa kerja sementara bagi tenaga profesional asing, khususnya di bidang teknologi, keuangan, dan STEM.

Visa ini sudah lama menjadi tulang punggung rekrutmen perusahaan teknologi besar di AS.

Kebijakan ini berpotensi memaksa perusahaan untuk mempertimbangkan strategi baru seperti perekrutan jarak jauh atau alih daya ke luar AS.

Kini, jutaan pekerja dan keluarganya harus menunda rencana hidup mereka sambil menunggu kejelasan kebijakan imigrasi AS. (KT)

Editor : ALengkong
#Amazon #VisaImigrasi #KebijakanAS #H1BVisa #TechNews #Microsoft