JagoSatu.com - Oracle, raksasa teknologi AS, didapuk jadi 'satpam' algoritma dan keamanan TikTok di Amerika Serikat. Ini jadi langkah besar lewat sebuah perusahaan patungan baru.
Langkah ini diambil karena pejabat AS khawatir algoritma TikTok gampang dimanipulasi pihak Tiongkok. Nah, kesepakatan ini diharapkan bisa menjawab kekhawatiran keamanan tersebut.
Kesepakatan ini bertujuan untuk mengakhiri drama keamanan nasional yang sudah lama terjadi. Sebelumnya, AS berusaha memaksa ByteDance untuk menjual operasi TikTok di sana.
Dalam struktur baru ini, ByteDance, induk TikTok, kabarnya cuma akan punya saham minoritas sekitar 20%. Artinya, kendali mayoritas bakal dipegang oleh pihak AS.
Anehnya, pemerintah AS sendiri nggak akan punya saham atau kursi dewan direksi. Jadi, seberapa besar kontrol mereka sebenarnya? Ini masih jadi pertanyaan besar.
Para mitranya pun bukan kaleng-kaleng. Selain Oracle, ada firma investasi Silver Lake, dan kemungkinan Rupert Murdoch serta Michael Dell. Isinya raksasa teknologi dan media semua!
Keahlian utama Oracle adalah software database, yang membuat mereka sangat pas untuk tugas ini. Mereka juga sedang berekspansi ke pusat data berbasis AI.
Sementara itu, Silver Lake adalah pemain besar dalam kesepakatan teknologi. Mereka punya rekam jejak mentereng, termasuk pernah terlibat dalam akuisisi Dell dan Skype.
Dilansir oleh AP News, seorang pejabat Gedung Putih mengkonfirmasi kesepakatan ini sudah memenuhi syarat keamanan. Namun, kesepakatan ini masih butuh persetujuan dari Tiongkok.
Dikutip dari AP News, inti dari kesepakatan ini adalah perusahaan baru AS akan mendapat lisensi untuk memakai 'kopian' algoritma TikTok. Oracle-lah yang akan meninjau dan mengamankannya.
Nantinya, 'kopian' algoritma ini akan 'dilatih ulang' pakai data dari pengguna AS. Tujuannya adalah untuk memastikan sistemnya berfungsi dengan baik dan aman.
Ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah TikTok versi AS akan terasa berbeda? Mengotak-atik algoritma yang sudah sukses besar tentu berisiko dan bisa bikin penggunanya kabur.
Namun, Gedung Putih menjamin pengalaman pengguna nggak akan berubah. Dilaporkan oleh AP News, mereka bilang pengguna tetap bisa melihat video dari negara lain seperti biasa.
Situasi ini sedikit mirip saat Elon Musk mengambil alih Twitter, tapi perubahan di TikTok mungkin akan lebih halus dan tidak sedramatis perombakan total pada platform X.
Kesepakatan ini memang solusi yang kreatif untuk masalah yang rumit. Menurut kalian, apakah langkah ini benar-benar bisa menjamin keamanan data pengguna TikTok? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung