Jagosatu.com - Dunia kecerdasan buatan kembali berguncang setelah startup sains AI, Lila Sciences, mengumumkan pendanaan baru senilai US$115 juta atau sekitar Rp1,8 triliun.
Pendanaan besar itu membuat valuasi perusahaan asal California ini melonjak menjadi US$1,3 miliar, menjadikannya salah satu unicorn baru di sektor teknologi penelitian ilmiah.
Menurut laporan Reuters, pendanaan dipimpin langsung oleh Nvidia, dengan partisipasi investor besar seperti Andreessen Horowitz, Index Ventures, dan Lux Capital.
CEO Lila Sciences, Dr. Naomi Adler, mengatakan bahwa visi utama perusahaan adalah mempercepat penemuan ilmiah dengan memadukan kecerdasan buatan dan laboratorium otomatis.
“Lila Sciences berusaha menjadikan AI bukan hanya alat bantu, tapi mitra peneliti yang bisa berpikir, bereksperimen, dan belajar sendiri,” ujar Adler dalam konferensi pers.
Teknologi inti yang dikembangkan startup ini disebut LilaMind, model AI yang mampu merancang eksperimen ilmiah dan menganalisis hasilnya secara real time.
LilaMind memanfaatkan gabungan antara language model besar seperti GPT dengan sistem otomatisasi laboratorium robotik.
Dengan teknologi ini, penelitian bioteknologi dan material baru bisa dilakukan dalam hitungan jam, bukan lagi berbulan-bulan.
Menurut Reuters Tech, sistem LilaMind sudah digunakan di lebih dari 30 laboratorium riset di Amerika Serikat dan Eropa.
Baca Juga: 858 TB Data Pemerintah Lenyap, Alasan Resminya Bikin Geleng-Geleng Kepala!
Beberapa universitas besar seperti Stanford dan Oxford bahkan tengah mengujinya untuk riset obat dan biologi sintetik.
Nvidia yang ikut menanam modal mengaku melihat potensi besar dalam kolaborasi antara AI dan sains eksperimental.
Wakil Presiden Nvidia, Ian Buck, menyebut bahwa Lila Sciences berada di garis depan revolusi “AI untuk ilmu pengetahuan.”
“Kolaborasi kami akan membantu menciptakan generasi baru ilmuwan yang bekerja berdampingan dengan AI,” ujarnya.
Teknologi ini memungkinkan para peneliti menulis instruksi eksperimen dalam bahasa manusia, sementara sistem akan menjalankan dan menganalisis hasilnya secara otomatis.
Pendekatan ini disebut sebagai “AI-assisted discovery” atau penemuan ilmiah berbantuan kecerdasan buatan.
Menurut laporan MIT Technology Review, Lila Sciences menjadi pelopor dalam bidang ini, bersaing dengan startup seperti Atomwise dan Insilico Medicine.
Selain untuk bioteknologi, LilaMind juga diuji dalam bidang kimia material, energi terbarukan, dan penelitian iklim.
Para analis menilai bahwa langkah Nvidia berinvestasi di Lila Sciences menunjukkan strategi jangka panjang dalam memperluas pengaruhnya di luar komputasi AI konvensional.
Dengan dana baru ini, Lila Sciences berencana membuka pusat riset di Jepang dan Jerman pada tahun 2026 untuk memperluas jangkauan global.
(J)
Editor : ALengkong