JagoSatu.com - Hype AI bakal segera berakhir? Para bos teknologi mulai was-was kalau 'gelembung' AI ini bisa pecah kapan saja. Mari kita bedah alasannya menurut para pakar teknologi.
Dunia AI dipenuhi jalinan investasi yang rumit. OpenAI bekerja sama dengan AMD, Nvidia, dan Microsoft. Tapi Nvidia dan Microsoft juga berinvestasi di CoreWeave. Sudah kayak sinetron, tapi isinya duit triliunan.
Jalinan investasi ini bikin bingung siapa pelanggan dan siapa pemiliknya. Ratusan miliar dolar berputar di antara segelintir perusahaan, jadi lebih mirip main kartu dengan taruhan super besar.
Dilansir Yale Insights, CEO AMD Lisa Su justru membantah kekhawatiran ini. Menurutnya, para kritikus 'berpikir terlalu sempit' dan AI sedang memulai 'Siklus Super' yang berlangsung satu dekade ke depan.
Namun, bahkan pemain raksasa pun mulai cemas. Jeff Bezos menyebutnya 'gelembung industri'. Sam Altman dari OpenAI juga mengakui banyak yang bakal 'berinvestasi berlebihan dan rugi' karena hype ini.
Dalam sebuah pertemuan CEO Yale, 40% bos besar percaya koreksi pasar akan segera terjadi. Sisanya seolah cuek, padahal hampir setengah ruangan sudah deg-degan menunggu apa yang akan terjadi.
Menurut Yale Insights, saham AI menyumbang 75% keuntungan pasar S&P 500 sejak akhir 2022. Tapi pertumbuhan ini diprediksi melambat. Pasar bergantung pada tujuh perusahaan saja, fondasinya rapuh.
Pendiri hedge fund David Siegel malah curiga AI tidak sepintar itu. Menurutnya, AI mungkin cuma hafal 'kunci jawaban' dari data latihannya. Jadi, si jenius AI ini cuma murid yang punya contekan super lengkap.
Sebuah studi dari MIT mengonfirmasi hal ini. Terungkap 95% perusahaan tidak balik modal dari investasi GenAI mereka, setelah menghabiskan puluhan miliar dolar. Beli kursi gaming malah lebih untung.
Dikutip oleh Yale Insights, Co-CEO AlixPartners Rob Hornby merasa AGI (AI super cerdas) 'masih jauh'. Ia ragu AI bisa menggantikan pekerjaan manusia yang kompleks dalam waktu dekat. Kabar baik, nih!
Pakar Modal Ventura, Alan Patricof, mengakui revolusi AI itu nyata. Tapi banyak yang cuma menempelkan label 'AI' di produk mereka agar valuasinya meroket. Mirip demam 'blockchain' dulu, kan?
Jadi, apa yang bisa bikin gelembung ini pecah? Pertama, efek domino. Semua pemain besar saling terhubung. Jika satu janji AI gagal, yang lain bisa ikut ambruk seperti menara Jenga.
Contohnya, Yale Insights melaporkan OpenAI menghabiskan $300 miliar untuk kesepakatan dengan Oracle, yang kabarnya merugi. Ini strategi 'bakar duit' gila-gilaan yang mungkin tidak akan bertahan lama.
Kedua, kurangnya pengawasan. Situasi AI sekarang mirip bursa kripto sebelum runtuh. Slogan 'bergerak cepat dan merusak' keren, tapi jangan sampai yang dirusak adalah sistem keuangan global.
Ketiga, teknologi baru yang mengganggu. Bayangkan ada chip baru yang bikin data center canggih saat ini jadi usang. Rasanya seperti baru beli RTX 4090, eh seminggu kemudian RTX 5090 rilis. (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung