Jagosatu.com - Para ilmuwan dunia kini tengah menyoroti teknologi baru yang bisa mengubah cara kita melawan perubahan iklim.
Teknologi ini dikenal dengan nama Solar Radiation Modification (SRM) atau modifikasi radiasi matahari.
SRM bertujuan untuk memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke luar angkasa agar suhu bumi menurun.
Menurut laporan resmi dari Royal Society Inggris, teknologi ini memang menjanjikan, tapi sangat berisiko.
Baca Juga: Ngeri! Aplikasi Mata-Mata ICE Pindai Wajah Warga di Jalanan AS.
Ilmuwan menjelaskan bahwa SRM tidak bisa menggantikan upaya pengurangan emisi karbon.
Artinya, meskipun suhu bumi bisa dikendalikan sementara, akar masalahnya tetap belum terselesaikan.
Teknologi ini bekerja dengan cara menyebarkan partikel di atmosfer bagian atas untuk memantulkan cahaya matahari.
Proses itu meniru efek dari letusan gunung berapi besar yang mampu menurunkan suhu global sementara waktu.
Namun, dampaknya terhadap iklim global masih belum sepenuhnya dipahami.
Royal Society memperingatkan bahwa penggunaan SRM tanpa regulasi bisa mengacaukan sistem cuaca dunia.
Beberapa ilmuwan khawatir teknologi ini dapat menyebabkan kekeringan atau badai di wilayah tertentu.
Selain itu, SRM juga bisa menimbulkan konflik antarnegara jika efeknya merugikan sebagian kawasan bumi.
Pakar lingkungan menilai bahwa SRM seharusnya hanya menjadi opsi darurat, bukan solusi utama.
Fokus dunia tetap harus pada pengurangan emisi karbon melalui energi bersih dan efisiensi industri.
Meski begitu, penelitian terhadap SRM tetap penting untuk memahami potensi dan risikonya secara ilmiah.
Beberapa universitas besar di Eropa dan Amerika kini mulai mengembangkan simulasi SRM skala kecil.
Tujuannya adalah untuk mempelajari dampak jangka panjangnya terhadap awan, curah hujan, dan pola angin.
Royal Society juga mendorong kerja sama internasional dalam pengawasan riset SRM agar tidak disalahgunakan.
Para peneliti menegaskan, “mengutak-atik” sinar matahari bukan keputusan yang bisa diambil sembarangan.
Jika tidak hati-hati, teknologi yang tampak menyelamatkan bisa justru menjadi bencana baru bagi bumi. (J)
Editor : ALengkong