Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Awas! Riwayat Browsing dan Gaji Kamu Bisa Bikin Harga Barang Lebih Mahal

Toar Rotulung • 2025-12-09 01:00:00

Ilustrasi belanja online.
Ilustrasi belanja online.

JagoSatu.com - Kabar menarik datang dari New York. Mereka baru saja memberlakukan aturan yang memaksa toko online untuk blak-blakan soal cara mereka menentukan harga barang kepada konsumen.

Sekarang, pembeli bakal melihat peringatan tegas: "Harga ini ditetapkan oleh algoritma yang menggunakan data pribadi Anda." Bayangkan tulisan ini muncul pas lagi belanja Black Friday, pasti bikin kaget banyak orang.

Dilansir oleh TechSpot, undang-undang ini menargetkan "penetapan harga algoritmik." Jadi, data pribadi seperti riwayat browsing sampai lokasi kamu bisa mengubah harga barang yang kamu lihat.

Trik ini sebenarnya lagu lama. Dulu sempat heboh Orbitz mengarahkan pengguna Mac ke hotel mahal. Tapi algoritma zaman now lebih canggih, pakai data gerakan mouse sampai estimasi gaji buat nebak harga maksimalmu.

Sistem modern pakai machine learning pada jutaan transaksi buat nebak seberapa rela kamu keluar uang. Ini mengubah setiap klik yang kamu lakukan jadi senjata buat "melawan" dompetmu sendiri.

Dikutip dari TechSpot, kelompok bisnis sempat menggugat dan menyebut peringatan ini "mengancam." Reaksi ini terkesan panik; kalau sistem harganya jujur, kenapa harus takut transparan, kan?

Untungnya, seorang hakim federal menolak permintaan blokir tersebut dan membiarkan aturan ini tetap jalan. Prioritasnya jelas: kesadaran konsumen lebih penting daripada kenyamanan perusahaan.

Para pakar ritel berdalih kalau toko besar pakai data buat diskon, bukan naikin harga. Mungkin ini berlaku di Walmart, tapi beda cerita sama aplikasi travel atau ojek online yang harganya sangat personal.

Contoh nyatanya sangat jelas. Pernah ada peneliti dan istrinya dapat harga ojek online beda buat rute yang sama. Sistem yang enggak transparan ini bikin ketidakadilan tanpa kita sadari.

Seperti dikutip dalam liputan TechSpot, ada konsultan yang khawatir aturan ini merusak kepercayaan program loyalitas. Argumen yang aneh, karena kepercayaan itu dibangun dari kejujuran, bukan main rahasia-rahasiaan.

Uber kini menampilkan peringatan itu di New York, tapi menyangkal pakai data pribadi buat atur harga. Pernyataan yang sangat diplomatis, padahal "permintaan waktu nyata" dan lokasi jelas-jelas data pengguna.

Para pakar hukum yang dikutip TechSpot melihat ini sebagai medan pertempuran regulasi AI berikutnya. Setelah deepfake, diskriminasi harga otomatis adalah dampak AI paling nyata buat dompet kita sehari-hari.

Hukum ini sebenarnya enggak melarang praktik beda-beda harga, cuma memaksa perusahaan buat ngaku. Tujuannya biar konsumen bisa menilai sendiri, apakah harganya adil atau manipulatif.

Negara bagian lain dan pemerintah pusat mulai melirik aturan serupa. Langkah New York bakal jadi contoh penting bahwa transparansi bisa ditegakkan, meski perusahaan pasti bakal melawan mati-matian.

Ini kemenangan kecil tapi krusial. Kita enggak bisa protes kalau enggak tahu harganya dimainkan. Nah, menurut kalian, seberapa sering sih kita "dikerjain" algoritma pas belanja online? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung