Jagosatu.com - Obat hasil temuan kecerdasan buatan mulai menunjukkan hasil nyata dalam uji klinis dan langsung menarik perhatian dunia medis.
Penelitian ini berasal dari Recursion Pharmaceuticals yang dikenal sebagai perusahaan bioteknologi berbasis AI.
Menurut laporan TechStartups, perusahaan tersebut mengumumkan data klinis awal yang sangat menjanjikan.
Obat yang diuji dirancang untuk mencegah pertumbuhan polip pada usus besar.
Polip usus besar merupakan benjolan kecil yang bisa berkembang menjadi kanker jika dibiarkan.
Pencegahan polip adalah langkah penting dalam mengurangi risiko kanker usus besar.
Teknologi AI digunakan untuk mempercepat penemuan molekul obat melalui analisis jutaan kombinasi senyawa.
Baca Juga: Perangkat AI yang Dulu Viral Kini Jadi Milik Meta Apa Artinya untuk Privasimu?
AI di perusahaan ini bekerja dengan cara mempelajari pola biologis dari data sel manusia.
Sistem AI kemudian memprediksi senyawa mana yang paling mungkin memberi efek terapi.
Menurut TechStartups, obat tersebut menunjukkan pengurangan signifikan dalam pertumbuhan polip pada fase awal penelitian.
Hasil ini dianggap luar biasa karena biasanya penemuan obat membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Dengan AI, proses yang biasanya lama bisa dipersingkat secara drastis.
Para ilmuwan menyebut pendekatan ini sebagai "AI-driven drug discovery".
Istilah ini berarti obat ditemukan dengan bantuan kecerdasan buatan, bukan metode tradisional.
Teknik ini mempermudah peneliti memahami cara tubuh merespons suatu senyawa.
Recursion juga menyatakan bahwa efek samping yang muncul masih dalam batas aman.
Pantauan terhadap pasien berlangsung melalui metode klinis standar.
Perusahaan berencana melanjutkan uji klinis ke tahap berikutnya untuk memastikan keamanan jangka panjang.
Jika semua tahap berhasil, obat ini bisa menjadi terobosan dalam pencegahan kanker usus besar.
Para ahli menilai keberhasilan ini dapat membuka era baru bioteknologi modern.
Menurut laporan yang sama, banyak perusahaan lain mulai meniru model kombinasi AI dan biologi.
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi kesehatan memasuki fase inovasi tercepat sepanjang sejarah. (J)
Editor : ALengkong