Jagosatu.com - Dunia teknologi sedang heboh karena omongan dari salah satu bos besar Google yang memperingatkan adanya kemungkinan "Gelembung AI" atau AI bubble yang bisa mengancam pasar saat ini.
Gelembung AI adalah istilah yang dipakai ketika nilai perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan pendapatan atau keuntungan aslinya di masa depan.
Kekhawatiran ini muncul di saat yang sama ketika perusahaan raksasa pembuat chip, yaitu Nvidia, sedang mengalami lonjakan pendapatan yang luar biasa tinggi.
Nvidia adalah produsen utama Graphics Processing Unit (GPU), yaitu semacam "otak" komputer yang sangat dibutuhkan untuk melatih model-model AI yang canggih.
Menurut Reuters, pendapatan Nvidia benar-benar melonjak, bahkan mencapai $26 Miliar pada kuartal pertama tahun fiskal 2025, angka yang fantastis dan jauh melampaui perkiraan para analis.
Angka pendapatan yang tinggi ini menunjukkan betapa besar dan agresifnya perusahaan-perusahaan lain dalam berinvestasi untuk membangun sistem AI mereka sendiri.
Namun, di tengah pesta keuntungan Nvidia ini, ada suara sumbang dari eksekutif Google, yaitu Prabhakar Raghavan, yang menjabat sebagai Senior Vice President di perusahaan tersebut.
Raghavan menyuarakan bahwa pasar saat ini mungkin terlalu bersemangat dan terlalu cepat memberikan nilai yang sangat tinggi pada teknologi AI.
Ia khawatir jika ini terus berlanjut, situasinya bisa mirip dengan Dot-Com Bubble yang terjadi di akhir tahun 90-an dan awal tahun 2000-an.
Dot-Com Bubble adalah saat di mana banyak perusahaan internet yang tidak jelas keuntungannya tiba-tiba memiliki nilai saham yang sangat tinggi, namun akhirnya meledak dan menyebabkan kerugian besar bagi para investor.
Istilah Gelembung dalam ekonomi digunakan untuk menggambarkan situasi ketika harga aset (seperti saham perusahaan) naik dengan cepat dan drastis tanpa didukung oleh nilai fundamental atau keuntungan yang sebenarnya.
Ketika gelembung ini pecah atau meletus, harga-harga aset tersebut akan jatuh dengan sangat cepat dan bisa memicu krisis ekonomi yang lebih luas.
Kekhawatiran dari Raghavan ini bukan tanpa alasan, karena saat ini banyak uang triliunan Rupiah yang dialirkan untuk membeli hardware AI mahal, seperti chip dari Nvidia.
Dilansir dari Bloomberg, eksekutif Google tersebut mengingatkan bahwa belum tentu semua investasi besar ini akan menghasilkan keuntungan yang setara dalam waktu dekat.
Artinya, perusahaan-perusahaan membeli chip mahal sekarang dengan harapan akan untung besar di masa depan, padahal potensi keuntungannya masih berupa spekulasi.
Sebagai contoh, banyak perusahaan rintisan atau startup AI yang belum memiliki model bisnis yang jelas tentang bagaimana cara mereka menghasilkan uang.
Para startup ini hanya bermodal janji untuk membuat AI canggih dan menarik, namun belum tentu produk mereka akan laku dijual atau bisa bersaing dengan raksasa seperti Google atau OpenAI.
Jika para startup ini gagal menghasilkan uang dan nilainya jatuh, maka ini bisa menyeret nilai perusahaan lain yang terkait dengan ekosistem AI, termasuk mereka yang menjual chip.
Oleh karena itu, peringatan dari eksekutif Google ini menekankan perlunya kewaspadaan atau vigilance bagi semua pihak yang terlibat di pasar teknologi.
Mereka yang berinvestasi di saham perusahaan AI atau perusahaan yang memasok chip AI harus mulai lebih kritis dalam menilai apakah nilai perusahaan itu benar-benar wajar.
Semua orang, bahkan anak SMP yang mulai belajar investasi, harus tahu bahwa hype atau kehebohan di pasar tidak selalu sama dengan nilai yang sebenarnya.
Perusahaan-perusahaan teknologi juga didorong untuk menunjukkan Return on Investment (ROI) yang jelas, yaitu seberapa besar keuntungan yang didapatkan dari modal yang sudah mereka keluarkan untuk AI.
Jika perusahaan terus berinvestasi besar di AI tanpa menunjukkan keuntungan yang seimbang, maka nilai perusahaan tersebut akan terlihat seperti gelembung yang makin membesar dan tipis.
Situasi ini memang dilema, karena di satu sisi AI adalah teknologi masa depan yang akan mengubah segalanya, namun di sisi lain investasi di dalamnya sangat berisiko.
Para ahli ekonomi pun mulai terbelah antara yang optimis bahwa lonjakan AI ini nyata dan akan bertahan lama, dengan mereka yang pesimis dan menganggapnya hanya sementara.
Intinya, peringatan AI Bubble ini adalah pengingat penting bahwa dalam dunia teknologi yang bergerak sangat cepat, kehati-hatian dalam berinvestasi adalah kunci utama.
Kewaspadaan harus ditingkatkan agar sejarah Dot-Com Bubble yang pahit tidak terulang kembali, hanya saja kali ini pelakunya adalah teknologi AI.
(DB)
Editor : Toar Rotulung