Jagosatu.com - Dunia teknologi kembali heboh setelah Google dan OpenAI sama sama merilis inovasi kecerdasan buatan terbaru mereka di hari yang sama.
Google memperkenalkan agen riset baru bernama Gemini Deep Research yang dibangun di atas model Gemini 3 Pro.
Agen ini dirancang untuk membantu pekerjaan riset berat seperti analisis dokumen medis dan pengecekan keamanan obat.
Menurut TechCrunch, Google juga menyiapkan Interactions API agar agen riset ini dapat digunakan di aplikasi buatan pengembang lain.
Google berencana memasukkan kemampuan agen ini ke layanan seperti Google Search agar pengguna bisa mendapat jawaban dengan analisis lebih dalam.
Google juga membawa fitur ini ke aplikasi Gemini dan NotebookLM untuk memudahkan pelajar dan peneliti membuat ringkasan panjang.
Di sisi lain OpenAI merilis GPT 5.2 yang disebut sebagai model paling kuat untuk pekerjaan profesional.
Menurut OpenAI, GPT 5.2 hadir dalam tiga tipe yaitu Instant Thinking dan Pro yang punya fungsi berbeda untuk kecepatan dan kedalaman analisis.
Baca Juga: Mengungkap Pola Peminjaman Buku Bagaimana Data Membantu Perpustakaan Lebih Efektif
GPT 5.2 menawarkan peningkatan besar pada kemampuan membaca dokumen panjang sehingga cocok untuk riset akademik dan laporan bisnis.
Model ini juga diklaim lebih aman berkat peningkatan sistem penyaringan jawaban agar tidak mudah memberikan informasi keliru.
OpenAI menyebut GPT 5.2 mampu menghasilkan kode dengan lebih rapi sehingga cocok untuk programmer dan pengembang aplikasi.
Peluncuran dua teknologi besar ini membuat dunia menyadari bahwa persaingan AI kini semakin cepat dan dinamis.
Para pakar menilai dua raksasa ini sama sama ingin menjadi yang terdepan dalam bidang riset kecerdasan buatan.
Pertarungan keduanya membuat banyak perusahaan teknologi mulai mengembangkan layanan yang memanfaatkan kecerdasan buatan.
Google dan OpenAI sama sama menargetkan pengguna profesional yang membutuhkan alat riset super cepat.
Gemini Deep Research lebih menonjol dalam analisis terarah layaknya asisten peneliti digital.
GPT 5.2 lebih fleksibel karena bisa digunakan untuk berbagai tugas mulai dari menulis laporan hingga membuat program.
Munculnya dua teknologi ini diprediksi akan mempercepat perubahan cara kerja manusia dalam berbagai bidang.
Sekolah dan universitas bahkan mulai mempertimbangkan penggunaan agen AI untuk membantu riset akademik.
Perusahaan juga mulai menggabungkan agen AI untuk memotong waktu kerja yang biasanya memakan banyak tenaga manusia.
Peluncuran di hari yang sama menjadi tanda bahwa kompetisi AI kini bergerak semakin agresif.
Kedua perusahaan tampaknya akan terus berlomba menciptakan teknologi yang semakin mendekati kecerdasan manusia.
Para pengguna kini tinggal menunggu siapa yang akan menjadi pemimpin utama dalam inovasi AI generasi berikutnya. (KT)
Editor : ALengkong