Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Chip Lokal Keok, Tiongkok Terpaksa Impor Nvidia H200 Meski Mahal

Toar Rotulung • 2025-12-15 01:00:00
Material Pemasaran Chip Nvidia H200
Material Pemasaran Chip Nvidia H200

JagoSatu.com - Nvidia kini tengah sibuk mengevaluasi peningkatan produksi chip AI H200. Langkah ini diambil karena permintaan pasar Tiongkok yang membludak, jauh melebihi stok yang tersedia saat ini.

Raksasa teknologi seperti Alibaba dan ByteDance dilaporkan berebut memesan chip ini dalam jumlah masif. Mereka sadar betul pentingnya mengamankan chip terbaik yang masih legal untuk dibeli demi memenangkan persaingan AI.

Dilansir oleh Reuters, sumber internal menyebut Nvidia kemungkinan besar akan menambah kapasitas produksi baru. Tentu saja, ini peluang emas bagi Nvidia untuk mendulang cuan lebih banyak dari produk yang sangat diminati ini.

H200 sebenarnya masih keluarga arsitektur Hopper lawas, bukan Blackwell yang terbaru. Namun, chip ini adalah opsi terkencang yang bisa didapatkan Tiongkok saat ini untuk kebutuhan komputasi tingkat tinggi.

Performa H200 jauh melampaui H20, chip versi "sunat" yang sebelumnya dirilis khusus untuk Tiongkok. Dengan keunggulan performa hingga enam kali lipat, wajar jika H20 kurang diminati oleh perusahaan besar di sana.

Alasannya sederhana: chip buatan lokal Tiongkok performanya tertinggal jauh, sekitar dua hingga tiga kali lebih lambat dibanding H200. Celah inilah yang membuat perusahaan teknologi di sana panik dan memburu chip buatan Nvidia.

Uniknya, perubahan kebijakan AS kini mengizinkan ekspor H200 dengan syarat tarif 25 persen. Dikutip dari Reuters, ini adalah pajak teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perdagangan kedua negara.

Masalahnya, kapasitas produksi Nvidia sedang terbagi untuk chip Blackwell dan platform Rubin. Kemacetan pasokan di pabrik TSMC menjadi tantangan tersendiri yang harus dipecahkan oleh Jensen Huang agar suplai tetap lancar.

Fenomena ini mencerminkan betapa mendesaknya kebutuhan Tiongkok akan daya komputasi AI. Untuk saat ini, mereka lebih memprioritaskan performa instan daripada menunggu kemandirian chip domestik yang entah kapan akan setara.

Di sisi lain, Beijing cemas jika membanjirnya H200 justru akan mematikan industri chip lokal seperti Huawei. Ini bagaikan buah simalakama: butuh performa sekarang, tapi berisiko mengorbankan kemandirian teknologi jangka panjang.

Bagi perusahaan teknologi, kemampuan H200 melatih model AI raksasa adalah segalanya. Efisiensi biaya untuk penerapan skala besar membuat chip ini menjadi investasi yang sulit ditolak, meski ada risiko politik yang mengintai.

Nvidia sudah memberi sinyal kepada klien di Tiongkok soal rencana penambahan kapasitas ini. Namun, meningkatkan produksi chip 4nm dengan memori HBM3e bukanlah hal yang mudah dilakukan mendadak di tengah padatnya jadwal TSMC.

Tarif 25 persen tadi menciptakan aliran pendapatan baru bagi pemerintah AS. Ini semacam kompromi unik: menjaga keamanan nasional, tapi tetap membiarkan perusahaan Amerika bersaing dan mencari untung di pasar global.

Analis kini memantau apakah Beijing akan membatasi pembelian H200 demi melindungi produk lokal. Bisa saja pemerintah sana mewajibkan perusahaan memberi alasan kuat sebelum diizinkan memborong produk Nvidia ketimbang produk dalam negeri.

Kasus H200 ini menjadi gambaran sempurna rumitnya perang dagang, ambisi teknologi, dan keamanan negara. Nah, menurut kalian, apakah strategi "pajak 25 persen" ini solusi yang adil bagi kedua pihak? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung
#Pasar #Tiongkok #Nvidia #chip ai #produksi #H200