Jagosatu.com - Dunia energi global sedang menatap teknologi baru yang terdengar seperti fiksi ilmiah namun mulai mendekati kenyataan lewat pembangkit listrik fusi bernama Helios.
Helios dikembangkan oleh perusahaan rintisan asal Amerika Serikat bernama Thea Energy yang fokus pada energi fusi bersih.
Energi fusi adalah proses penggabungan inti atom ringan untuk menghasilkan energi sangat besar seperti yang terjadi di Matahari.
Berbeda dengan pembangkit nuklir konvensional, fusi tidak menghasilkan limbah radioaktif jangka panjang yang berbahaya.
Menurut TechCrunch, Thea Energy memperkenalkan Helios sebagai pembangkit fusi dengan desain magnet terinspirasi piksel yang jauh lebih fleksibel.
Desain piksel ini berarti Helios menggunakan banyak magnet kecil yang bisa dikontrol satu per satu.
Magnet mini tersebut bekerja bersama untuk menahan plasma yaitu gas super panas tempat reaksi fusi terjadi.
Plasma harus dijaga agar tidak menyentuh dinding reaktor karena suhunya bisa mencapai ratusan juta derajat.
Baca Juga: Google dan Apple Umumkan Keamanan Darurat Setelah Peretas Berhasil Eksekusi Zero-Day!
Biasanya reaktor fusi memakai magnet besar yang mahal dan sangat sulit dibuat dengan presisi tinggi.
Helios justru mengandalkan perangkat lunak dan kecerdasan buatan atau AI untuk mengatur magnet magnet kecil tersebut.
AI dalam sistem Helios berfungsi untuk menyesuaikan medan magnet secara real time agar plasma tetap stabil.
Menurut TechCrunch, pendekatan ini membuat toleransi kesalahan produksi magnet menjadi lebih longgar dan biaya bisa ditekan.
Helios sendiri berbasis pada konsep stellarator yaitu jenis reaktor fusi yang menggunakan medan magnet kompleks untuk menahan plasma.
Stellarator dikenal lebih stabil dibanding tokamak karena tidak membutuhkan arus listrik besar di dalam plasma.
Thea Energy menargetkan Helios mampu menghasilkan sekitar 390 megawatt listrik dari 1,1 gigawatt energi panas.
Jumlah listrik tersebut cukup untuk memasok ratusan ribu rumah jika benar benar terwujud.
Perusahaan ini juga menargetkan biaya listrik di bawah 150 dolar per megawatt jam menurut laporan TechCrunch.
Helios dirancang memiliki faktor kapasitas tinggi artinya pembangkit bisa beroperasi hampir sepanjang waktu.
Saat ini Helios masih berada pada tahap desain lanjutan dan pengembangan sistem pendukung.
Thea Energy sebelumnya telah mengembangkan prototipe awal bernama Eos sebagai langkah menuju Helios.
Pengembangan ini menunjukkan bagaimana software dan hardware bisa bekerja bersama dalam teknologi energi masa depan.
Para peneliti melihat pendekatan ini sebagai cara baru untuk mempercepat komersialisasi energi fusi.
Jika berhasil Helios bisa menjadi salah satu tonggak penting menuju listrik bersih yang aman dan hampir tak terbatas. (KT)
Editor : ALengkong