Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Siap-Siap Mahal? Harga RAM dan SSD Belum Bakal Turun Hingga 2027

Toar Rotulung • 2025-12-16 01:00:00
Ilustrasi Chip HBM4 produksi SK Hynix
Ilustrasi Chip HBM4 produksi SK Hynix

JagoSatu.com - SK Hynix baru saja memutuskan untuk menunda ekspansi kapasitas produksi memori HBM4 mereka hingga kuartal ketiga 2026. Kabar ini bukan soal masalah teknis, tapi justru pertanda "masalah" yang positif bagi perusahaan.

Penyebabnya? Permintaan chip HBM3E yang ada saat ini masih sangat membludak. Hal ini memaksa mereka untuk tetap memprioritaskan jalur produksi yang sudah ada demi memenuhi kebutuhan pasar akselerator AI yang seolah tak ada habisnya.

Dikutip dari TechPowerUp, GPU "Rubin" generasi terbaru NVIDIA kabarnya menghadapi tantangan produksi, sehingga kebutuhan akan HBM4 pun ikut mundur. Jadi, buat apa buru-buru pindah ke memori baru kalau pelanggannya saja belum siap?

Saat ini, SK Hynix adalah "raja" pasar HBM dengan penguasaan lebih dari 70% pangsa global, di mana sebagian besarnya disuplai langsung ke NVIDIA. Fokus awal pada teknologi ini sukses memberi mereka keuntungan rekor.

Laporan keuangan kuartal ketiga 2025 mereka benar-benar fantastis. Pendapatan tembus $17,1 miliar dengan laba bersih $8,8 miliar, naik 118,9% dari tahun lalu. Demam emas HBM benar-benar membuat mereka panen uang tunai dalam jumlah masif.

Mereka tancap gas dengan menaikkan budget belanja modal sebesar 30% untuk menjaga momentum. Dilansir oleh TechPowerUp, 80% dari anggaran jumbo lima tahunan mereka dialokasikan khusus untuk pengembangan chip HBM kelas atas.

Stok HBM mereka untuk tahun 2025 praktis sudah ludes terjual, bahkan pesanan untuk tahun 2026 sudah menumpuk. Jadi, kalau mau bikin akselerator AI tahun depan, opsinya cuma beli HBM dari SK Hynix.

Beralih ke sektor NAND, mereka sedang mengembangkan modul V10 300 lapis dengan teknologi baru bernama "wafer-to-wafer hybrid bonding". Ini adalah lompatan teknik besar yang diperlukan agar sirkuit tidak meleleh saat lapisan terus ditumpuk.

Pendekatan ini memisahkan pembuatan tumpukan sel memori dan sirkuit periferal pada wafer berbeda, lalu merekatkannya. Metode ini rumit, tapi ampuh mengurangi panas dan mempercepat kinerja, asalkan penyelarasan skala nanometer-nya presisi.

Targetnya, modul V10 ini masuk tahap validasi pada 2026 dan produksi massal di 2027. Langkah ini membuat mereka sejajar dengan pesaing berat seperti Kioxia dan Samsung. Persaingan teknologi lapisan ini bakal semakin sengit.

SK Hynix juga joran-joran di kapasitas litografi EUV. Mereka berencana memasang 20 unit mesin Low-NA dalam dua tahun ke depan. Investasi triliunan Rupiah ini kunci untuk mendorong node DRAM generasi berikutnya.

Tak tanggung-tanggung, mereka juga mengamankan sistem EUV High-NA super mahal untuk fasilitas M16. Langkah ini menempatkan mereka selangkah lebih maju dalam adopsi teknologi litografi dibanding kompetitor lainnya di industri memori.

Sayangnya, kapasitas NAND yang ada dialihkan besar-besaran ke produksi V9 untuk SSD perusahaan yang lebih menguntungkan. Drive untuk konsumen biasa jadi kurang prioritas. Kabar buruk nih buat para gamer yang cari SSD murah.

Dikutip dari TechPowerUp, jangan berharap harga RAM dan SSD bakal turun dalam waktu dekat. Kekurangan stok ini diprediksi belum akan teratasi oleh produksi baru yang dijadwalkan baru siap akhir 2026 atau 2027.

Transformasi agresif ke memori AI ini benar-benar mengubah peta persaingan teknologi memori saat ini. Nah, menurut kalian, apakah dominasi SK Hynix ini bakal bertahan lama atau Samsung bisa menyusul? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung
#kapasitas #ekspansi #Menunda #kuartal ketiga #memori #produksi #Sk Hynix #2026