JagoSatu.com - Sebuah startup asal Virginia, Operation Bluebird, nekat menantang Elon Musk. Misi mereka cukup mencengangkan: merebut kembali merek legendaris "Twitter" dari tangan X Corp karena dianggap sudah tak bertuan.
Langkah ini bukan main-main. Mereka sudah mengajukan petisi resmi ke USPTO dengan argumen utama: "pengabaian". Intinya, Musk dianggap sudah menelantarkan nama Twitter dan Tweet demi ambisi rebranding huruf X-nya.
Dilansir oleh Ars Technica, petisi itu menyoroti bahwa atribut Twitter sudah dihapus total dari layanan X. Hukumnya simpel: kalau sebuah brand tidak dipakai dagang dan ditolak pemiliknya, hak kepemilikannya bisa hangus.
Cuitan Musk pada Juli 2023 menjadi senjata makan tuan. Saat itu ia berkoar akan mengucapkan selamat tinggal pada merek Twitter dan semua burungnya. Bagi Operation Bluebird, ini bukti niat Musk membuang merek tersebut.
Jika sukses merebut nama itu, Operation Bluebird berencana meluncurkan medsos baru bernama Twitter.new akhir tahun depan. Mereka bahkan sudah punya prototipe dan membuka reservasi. Strategi nostalgia yang sangat cerdas!
Menariknya, salah satu pentolan grup ini adalah Stephen Coates, mantan penasihat umum Twitter. Punya orang dalam yang paham seluk-beluk dapur hukum Twitter jelas jadi keuntungan besar dalam pertarungan ini.
Visi mereka adalah mengembalikan nuansa "alun-alun kota" digital yang dirasa hilang sejak era X. Mereka percaya "jiwa" dari platform tersebut masih terikat kuat pada nama Twitter, bukan X.
Target pasarnya jelas: brand komersial yang kabur dari X. Dikutip dari Ars Technica, mereka menawarkan alternatif medsos yang lebih aman dan dimoderasi ketat, mengisi celah pasar yang ditinggalkan X karena konten bermasalah.
Secara hukum, sekadar memegang merek tanpa "aktivitas dagang nyata" itu tidak cukup. Ini hambatan besar bagi Musk. Apakah sekadar kebiasaan pengguna menyebut "tweet" bisa dianggap penggunaan sah oleh perusahaan?
Seorang ahli hukum Stanford mengatakan kepada Ars bahwa X harus membuktikan mereka masih punya rencana memakai nama Twitter. Asosiasi publik yang masih melekat adalah satu-satunya harapan pembelaan X saat ini.
Lebih parah lagi, Operation Bluebird menuduh X melakukan penipuan dokumen. X diklaim berbohong saat perpanjangan izin di Oktober 2023 dengan menyatakan masih akan memakai merek Twitter. Ini tuduhan serius yang bisa membatalkan hak merek seketika.
Meski ada Threads atau Bluesky, nama "Twitter" tetaplah juara. Dikutip dari Ars Technica, Operation Bluebird yakin tak ada yang bisa menyaingi nilai sejarah dan pengakuan merek Twitter sebagai aset digital paling ikonik.
Seorang pengacara HAKI menyebut posisi X cukup sulit. Ketika CEO secara publik menyatakan nama tersebut sudah mati dan menghapusnya dari produk, itu menjadi bukti hukum yang sangat telak soal pengabaian merek.
Namun, jangan harap drama ini cepat kelar. Kalaupun Operation Bluebird menang di tahap awal, X Corp pasti akan menggugat balik. Ini pertarungan memperebutkan nama senilai $44 miliar yang bakal panjang dan rumit.
Kasus ini adalah ujian prinsip "gunakan atau relakan" yang paling ekstrem. Nah, menurut kalian, apakah Elon Musk pantas kehilangan nama Twitter karena ulahnya sendiri? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung