JagoSatu.com - Ford tampaknya sedang banting setir dalam strategi baterai mereka. Tidak lagi cuma fokus pada mobil listrik, mereka kini meluncurkan bisnis penyimpanan energi. Ini langkah cerdas untuk masuk ke infrastruktur krusial yang menjaga lampu kita tetap menyala.
Sistem ini bakal mengandalkan baterai lithium iron phosphate (LFP). Meski bobotnya lebih berat, LFP dipilih karena umur pakainya yang panjang dan harganya yang miring, sangat cocok untuk sistem penyimpanan yang tidak perlu dipindah-pindah.
Dengan masuk ke ranah ini, Ford secara terbuka menantang dominasi Tesla yang sudah berkuasa selama satu dekade. Tesla sudah punya track record kuat di penyimpanan energi, jadi ini adalah pertarungan David lawan Goliath yang seru.
Seperti dilaporkan TechCrunch, tujuan utamanya adalah menyuplai daya ke pusat data dan menyangga jaringan listrik. Mengingat pusat data adalah sektor yang sangat haus energi, strategi Ford menjadi penyuplai "makanan" bagi mereka adalah ide jenius.
Keseriusan Ford terlihat dari investasi sebesar $2 miliar untuk dua tahun ke depan. Gelontoran dana jumbo ini menjadi bukti kuat bahwa proyek ini bukan sekadar coba-coba, melainkan pilar bisnis baru bagi sang produsen mobil.
Namun, Ford baru berencana mengirimkan sistem ini pada tahun 2027 dengan kapasitas 20 GWh per tahun. Di dunia teknologi yang serba cepat, rentang waktu tiga tahun adalah masa penantian yang sangat lama bagi kompetitor untuk menyalip.
Dikutip dari TechCrunch, rencana ini melibatkan perakitan sistem dalam kontainer 20 kaki di fasilitas Kentucky. Penggunaan kontainer besar memang standar industri, dan kemampuan manufaktur massal Ford seharusnya menjadi nilai plus di sini.
Untuk teknologinya, Ford mengambil langkah strategis dengan melisensikan baterai dari CATL China. Ini adalah jalan pintas yang cerdik untuk menghindari pusingnya riset dan pengembangan (R&D) dari nol, sehingga bisa langsung tancap gas.
Prioritas utama bisnis baru ini adalah pelanggan jaringan listrik komersial, seperti dilaporkan TechCrunch. Menjaga kestabilan jaringan listrik adalah peluang emas, apalagi dengan semakin banyaknya sumber energi terbarukan yang sifatnya fluktuatif.
Target pasarnya jelas: pemain besar seperti pusat data dulu, baru kemudian produk perumahan. Fokus pada klien korporat raksasa terlebih dahulu sangat masuk akal sebelum pusing mengurusi pasar konsumen ritel yang rumit.
Lisa Drake menyebut langkah ini "sangat masuk akal" bagi manufaktur Ford. Memanfaatkan fasilitas pabrik raksasa mereka untuk merakit kotak baterai besar sebenarnya adalah sebuah evolusi bisnis yang sangat logis dan efisien.
Dikutip dari TechCrunch, Pabrik Baterai BlueOval di Michigan dijadwalkan mulai produksi LFP pada 2026. Setelah berbagai drama penundaan konstruksi, adanya kepastian tanggal produksi ini tentu menjadi kabar yang melegakan.
Nantinya, pabrik Michigan ini juga akan memproduksi sel khusus untuk penyimpanan energi perumahan. Semakin banyak pesaing di pasar baterai rumah tangga tentu menjadi kabar baik bagi kita yang ingin beralih ke energi mandiri.
Perlu dicatat, pabrik di Michigan ini sempat mengalami pasang surut, mulai dari penghentian konstruksi hingga revisi kapasitas. Perubahan rencana yang terus-menerus ini sedikit menimbulkan tanda tanya mengenai stabilitas jangka panjang proyek tersebut.
Rencana finalnya kini menyusut sekitar 43% dari investasi awal tahun 2023. Meski skalanya mengecil agar lebih realistis, ambisinya terasa berkurang. Nah, menurut kalian apakah strategi Ford melawan Tesla ini bakal sukses besar? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung