Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Strategi Baru Apple di Jepang: Lebih Bebas Tapi Tetap Harus Bayar?

Toar Rotulung • 2025-12-23 12:13:17
Tampak Apple App Store jika Dibuka dari Browser Web
Tampak Apple App Store jika Dibuka dari Browser Web

JagoSatu.com - Apple akhirnya "menyerah" di Jepang demi mematuhi aturan persaingan software yang baru. Perubahan besar ini bakal mengubah cara aplikasi masuk ke iPhone kalian. Akhirnya, tekanan regulator memaksa Apple bertindak meski mereka terlihat sangat enggan melakukannya.

Bayangkan, Apple mengklaim sistem pembayaran alternatif ini bakal jadi pintu masuk virus dan penipuan. Intinya, mereka bilang HP kalian jadi kurang aman. Ini seolah taktik untuk menakut-nakuti pengguna agar tetap betah di ekosistem tertutup mereka.

Dilansir oleh 9To5Mac, Apple merasa aturan di Jepang lebih oke dibanding Uni Eropa karena masih bisa menyeimbangkan aspek keamanan. Di Jepang, mereka tidak wajib mendukung unduhan web langsung. Jelas, Apple lebih suka skema yang kendalinya masih ketat.

Sekarang, pengembang di Jepang bisa meluncurkan toko aplikasi mereka sendiri. Namun, setiap aplikasi tetap harus melewati proses "Notarisasi" untuk pengecekan ancaman. Ini semacam jalan tengah: kalian punya banyak opsi, tapi Apple tetap memegang kendali pengawasan.

Opsi pembayaran baru juga mulai bermunculan lewat tautan situs web. Syaratnya, pengembang tetap wajib menawarkan sistem Pembelian Dalam Aplikasi milik Apple. Ujung-ujungnya, Apple tetap ingin memastikan mereka dapat jatah dari setiap transaksi yang terjadi.

Dikutip dari 9To5Mac, Apple mengenakan "Komisi Teknologi Inti" sebesar 5 persen untuk distribusi di luar toko mereka. Komisi standar juga turun jadi 21 persen untuk barang digital. Memang Apple selalu punya cara untuk tetap mendapatkan keuntungan.

Ada juga biaya pemrosesan pembayaran sebesar 5 persen jika pengembang tetap memakai sistem resmi Apple. Bagi pengembang, ini adalah hitungan matematika yang cukup rumit. Rasanya Apple cuma memindahkan angka-angka demi menjaga keuntungan mereka tetap besar.

Dilansir oleh 9To5Mac, Apple mencatat bahwa aturan di Eropa membiarkan aplikasi konten dewasa masuk ke iOS. Mereka menggunakan alasan ini untuk memperketat keamanan di Jepang. Argumen keamanan konten digunakan sebagai alasan untuk mempertahankan kontrol yang lebih kuat.

Khusus kategori "Anak-anak", aplikasi dilarang menautkan link pembayaran ke luar. Pengguna di bawah 18 tahun juga butuh pengawasan orang tua untuk pembayaran alternatif. Langkah ini cukup masuk akal untuk melindungi pengguna di bawah umur dari transaksi tak sengaja.

Akhirnya! Pengguna iPhone di Jepang bakal segera punya kebebasan buat memilih browser dan mesin pencari default lewat pembaruan iOS 26.2. Bagi pengguna biasa, dominasi Safari dan Google sebagai setelan standar memang sudah bertahan terlalu lama.

Menariknya, ada API baru yang mengizinkan kalian mengganti Siri dengan asisten suara lain. Asisten ini bahkan bisa dihubungkan ke tombol samping iPhone. Ini kabar gembira buat yang merasa Siri kurang responsif dan ingin mencoba asisten lain.

Dikutip dari 9To5Mac, pengembang kini boleh menggunakan mesin browser selain WebKit milik Apple. Selama bertahun-tahun WebKit dianggap sebagai penghambat performa. Dengan dibukanya akses mesin lain, browser seperti Chrome bakal makin ngebut di perangkat iPhone.

Sekarang pengembang juga bisa meminta akses ke teknologi inti iOS. Ini bakal membuka jalan buat integrasi perangkat hardware pihak ketiga yang lebih dalam. Jika ini artinya dukungan jam tangan pintar non-Apple makin lancar, tentu sangat menguntungkan.

Fitur-fitur ini kabarnya sudah mulai digulirkan hari ini untuk dipelajari para pengembang. Apple terlihat berusaha beradaptasi dengan situasi regulasi yang ada. Perubahan besar di Jepang ini mungkin saja bakal menjadi contoh bagi negara-negara lainnya nanti.

Intinya, hukum baru di Jepang memaksa Apple untuk menjadi lebih terbuka dan tidak lagi kaku. Meski biayanya tetap bikin pusing, kebebasan tambahan ini adalah langkah ke arah yang benar. Menurut kalian, perlukah aturan ini diterapkan juga? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung