Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Tiongkok Temukan Cara Licin Pakai Chip B200 Nvidia, Amerika Serikat Pusing!

Toar Rotulung • 2025-12-30 01:00:00

Ilustrasi Chip di atas Peta Dunia
Ilustrasi Chip di atas Peta Dunia

JagoSatu.com - Tencent berhasil akal-akalan hindari blokir chip Blackwell B200 Nvidia lewat "celah sewa". Alih-alih beli silikonnya, mereka cuma sewa tenaga komputasi dari luar negeri. Ibarat dilarang beli mobil, tapi masih bisa sewa Ferrari di kota sebelah.

Meski Blackwell dilarang masuk Tiongkok, raksasa teknologi ini punya cara cerdas buat bertahan. Strategi "sewa GPU" jadi prioritas demi menjaga riset AI tetap jalan. Kebutuhan performa yang tinggi bikin mereka nekat tempuh jalur geopolitik ini.

Dilansir oleh wccftech, Tencent kabarnya akses chip ini lewat "neocloud" asal Jepang bernama Datasection. Kontraknya nggak main-main, mencapai $1,2 miliar lebih cuma buat sewa akses luar negeri. Memang AI nggak bisa nunggu siapa pun.

Chip B200 dan B300 ini ditempatkan Datasection pada fasilitas di Jepang serta Australia. Ini cara Tencent melatih model AI canggih tanpa butuh perangkat keras domestik. Intinya, kalau chip nggak bisa datang, datanya yang dikirim.

Seperti yang dikutip dari wccftech, kesepakatan ini melibatkan sekitar 15.000 prosesor Nvidia Blackwell. Lewat tangan ketiga, Tencent bisa pakai kekuatan "standar emas" AI ini secara legal. Strategi cerdik ini jelas bikin regulator di Washington D.C. pusing.

Menariknya, menyewa chip kencang justru lebih menguntungkan dibanding beli chip "spek rendah" khusus pasar Tiongkok. Gap performa Blackwell dibanding seri Hopper terlalu jauh. Buat apa pakai GPU lemot kalau bisa sewa yang kencang di luar?

Celah "komputasi sewa" ini terbukti jadi titik lemah aturan ekspor Amerika Serikat. Alibaba dan Baidu pun kabarnya mau ikut cara yang sama. Memblokir barang fisik memang mudah, tapi melarang kontrak cloud jauh lebih sulit.

Walau pemerintah AS tinjau lisensi chip H200, Blackwell tetap jadi "buah terlarang", seperti dilansir oleh wccftech. Tenaga mentah B200 terlalu superior. Ini seperti permainan kucing dan tikus dengan modal cloud bernilai miliaran dolar.

Blackwell B200 punya performa jauh di atas arsitektur Hopper lama. Makanya, Beijing sebenarnya nggak ketinggalan teknologi, cuma aksesnya via remote. Pakai chip lain sekarang rasanya kayak bawa pisau buat lawan senjata laser yang canggih.

CEO Datasection, Norihiko Ishihara, menyebut kebutuhan klaster AI melonjak dua kali lipat dalam setengah tahun. Dulu butuh 5.000 chip, sekarang minimal 10.000 agar kompetitif. Skala dan biayanya benar-benar sudah berada di luar kendali.

Tencent menegaskan penggunaan layanan cloud mereka sangat transparan dan tetap mematuhi hukum. Karena chipnya nggak pernah masuk wilayah Tiongkok, secara teknis mereka aman. Ini langkah "legal" yang sangat ekstrem dalam dunia perdagangan internasional.

Dikutip dari wccftech, rencana Washington buat tutup celah ini kabarnya batal pada Mei lalu. Momen ini dimanfaatkan Datasection buat kebut proyek di Osaka dan Sydney. Penundaan sedikit saja bisa bikin kontrak jumbo ini hangus.

Fasilitas Sydney diprediksi jadi klaster AI pertama dunia yang pakai chip B300 super canggih. Tencent bakal jadi pengguna utama di sana. Australia pun mendadak jadi garis depan perang teknologi cloud Amerika-Tiongkok.

Para analis menilai kontrol pengguna bakal makin sulit selama komputasi bisa disewa jarak jauh. Persaingan bukan lagi soal asal perusahaan, tapi soal lokasi pusat data. Batas negara jadi nggak berarti di dunia cloud.

Akhirnya, Tencent sukses tetap eksis di puncak rantai makanan AI secara legal. Entah kapan pengawasan bakal diperketat lagi. Nah, kalau menurut kalian, apakah cara sewa seperti ini bakal bertahan lama atau segera ditutup? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung