BEIJING – Xiaomi kembali menegaskan posisinya sebagai pelopor transformasi manufaktur global. Melalui fasilitas produksi ponsel pintar yang sepenuhnya otomatis di distrik Changping, Beijing, perusahaan teknologi asal Tiongkok itu memamerkan wajah baru industri manufaktur: serbacerdas, senyap, dan nyaris tanpa sentuhan manusia.
Pabrik yang dikenal sebagai dark factory tersebut bukan sekadar pabrik pintar konvensional. Ia menjadi etalase bagaimana kecerdasan buatan (AI) dan robotika mulai mengambil alih seluruh rantai produksi. Mulai perakitan hingga pengemasan akhir.
Istilah dark factory tidak hanya merujuk pada absennya pekerja manusia, tetapi juga pada desain pabrik yang dapat beroperasi tanpa pencahayaan konvensional. Robot industri tidak membutuhkan cahaya, pemanas, maupun fasilitas pendukung manusia lainnya. BGR kemarin (5/2) melaporkan, fasilitas seluas hampir 97 ribu meter persegi tersebut beroperasi tanpa kehadiran pekerja manusia di lantai produksi. Seluruh proses dijalankan oleh robot industri yang terintegrasi dengan sistem AI dan sensor presisi tinggi.
Baca Juga: Pameran IIMS 2026 Dimulai, Tampilkan 62 Brand Kendaraan
Xiaomi menyebutkan, pabrik itu memiliki kapasitas produksi hingga 10 juta unit ponsel pintar per tahun. Pada kapasitas penuh, fasilitas otonom tersebut efektif mampu memproduksi rata-rata satu unit ponsel setiap detik. Sebuah lompatan signifikan jika dibandingkan dengan pola manufaktur konvensional yang masih bergantung pada tenaga manusia.
“Harus ada perubahan paradigma. Pendidikan dan pelatihan ulang harus dipercepat agar pekerja tetap relevan di era industri otomatisasi berteknologi tinggi,” kata Liang Wei, profesor ekonomi teknologi Universitas Tiongkok.
Menteri Perindustrian Tiongkok Zhao Huo menyampaikan pernyataan senada dalam forum industri global tahun lalu. Dark factory adalah cerminan posisi strategis Tiongkok dalam persaingan manufaktur dunia. Namun, ia juga menekankan pentingnya keseimbangan kebijakan,” katanya. (din/dri/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy