Jagosatu.com - Ekonomi Jepang dilaporkan mengalami kontraksi cukup besar pada kuartal Juli sampai September 2025.
Menurut laporan Reuters, ekonomi Jepang menyusut hingga minus 2,3 persen secara tahunan.
Kontraksi berarti ekonomi mereka mengecil atau menurun dari periode sebelumnya.
Penurunan ini lebih buruk dari perkiraan awal yang hanya minus 1,8 persen.
Menurut para analis, penyebab utama kontraksi adalah melemahnya konsumsi masyarakat Jepang.
Konsumsi masyarakat Jepang turun karena banyak keluarga yang menahan belanja akibat inflasi yang masih terasa.
Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang membuat daya beli masyarakat melemah.
Selain konsumsi, investasi swasta di Jepang juga turun dan makin menekan aktivitas ekonomi.
Investasi swasta adalah modal yang dikeluarkan perusahaan untuk pengembangan bisnisnya.
Ekspor Jepang turut melemah karena permintaan global yang tidak stabil.
Baca Juga: Gawat! Ekonomi Dunia 2025 di Ramal Melambat, Dompet Kita Bakal Kena Dampaknya?
Padahal Jepang sangat bergantung pada ekspor untuk menjaga pertumbuhan ekonominya.
Menurut laporan Reuters, penurunan ekspor ini berdampak langsung pada industri utama seperti otomotif dan elektronik.
Industri otomotif Jepang seperti Toyota dan Honda terkena dampak karena turunnya pemesanan dari luar negeri.
Di sisi lain, Bank of Japan atau BOJ diprediksi masih akan menaikkan suku bunga meskipun ekonomi sedang tertekan.
Kenaikan suku bunga biasanya dilakukan untuk mengendalikan inflasi agar tidak terlalu tinggi.
Namun kenaikan suku bunga juga bisa memperlambat aktivitas ekonomi karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal.
Kondisi ini membuat banyak pelaku ekonomi di Jepang semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Kontraksi ekonomi Jepang bisa berdampak ke negara lain termasuk Indonesia.
Dampaknya terlihat dari penurunan permintaan barang impor dari Indonesia seperti komponen otomotif dan produk industri.
Jika permintaan turun, maka beberapa perusahaan Indonesia bisa mengalami penurunan produksi.
Selain itu investor Jepang juga bisa menunda masuk ke Indonesia karena kondisi ekonomi mereka sedang tidak stabil.
Meski begitu para ahli menilai dampaknya tidak terlalu besar karena ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik.
Namun tetap saja kondisi Jepang harus dipantau karena menjadi salah satu mitra dagang besar Indonesia.
Semua faktor ini membuat banyak negara waspada terhadap perubahan ekonomi Jepang dalam waktu dekat. (J)
Editor : ALengkong