Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mesin Pencari Google Berubah Jadi Otonom, Transisi Terbesar dalam Tiga Dekade

P
TEKNOLOGI BARU: Google menyelenggarakan konferensi pengembangan AI bertajuk Google I/O di Mountain View, California, Amerika Serikat, selama dua hari (19–20/5). (Foto: BENJAMIN FANJOY)
TEKNOLOGI BARU: Google menyelenggarakan konferensi pengembangan AI bertajuk Google I/O di Mountain View, California, Amerika Serikat, selama dua hari (19–20/5). (Foto: BENJAMIN FANJOY)

Advertisement

 

MOUNTAIN VIEW – Google kembali membuat gebrakan besar. Perusahaan yang didirikan Larry Page dan Sergey Brin itu mengubah mesin pencari Google menjadi sistem akal imitasi (AI) yang otonom (bisa bekerja sendiri). Perubahan ini disebut sebagai yang paling besar sejak Google Search diluncurkan hampir tiga dekade lalu.

Dilansir dari The Guardian, Google Search bukan lagi hanya tempat mencari informasi atau hanya menampilkan daftar link. Melainkan juga bisa mengerti konteks percakapan, memproses perintah rumit, dan membantu menyelesaikan tugas. Seperti asisten pintar yang memahami permintaan penggunanya. "Mesin pencari Google kini menjadi pencarian berbasis AI sepenuhnya," kata Elizabeth Reid, pimpinan Google Search.

Advertisement

Ditopang Model Terbaru Gemini

Reid menjelaskan bahwa pembaruan ini ditopang oleh model terbaru Gemini 3.5, yang memungkinkan sistem memproses pertanyaan panjang dan kontekstual serta menghasilkan respons yang lebih adaptif. Dalam laporan Google, sistem dapat menghasilkan format visual, simulasi, hingga alat interaktif yang disesuaikan dengan pertanyaan pengguna, menggeser struktur lama hasil pencarian berbasis daftar tautan.

Advertisement

Kacamata Pintar Hadir Kembali

Disisi lain, Google juga memperluas ambisinya ke perangkat keras dengan kembali memasuki pasar kacamata pintar. Produk ini dikembangkan bersama Samsung, Warby Parker, dan Gentle Monster, serta terhubung langsung dengan sistem AI Gemini untuk interaksi berbasis suara dan kamera.

Langkah ini menjadi kebangkitan dari kegagalan Google Glass yang diluncurkan pada 2014 dan dihentikan setahun kemudian setelah menuai kritik sosial dan isu privasi. Kini, perangkat baru ini hadir dengan pendekatan berbeda: lebih ringan, lebih terintegrasi, dan berfokus pada fungsi asisten AI sehari-hari.

Dalam ekosistem baru ini, kacamata tidak lagi diposisikan sebagai perangkat eksperimental, tetapi sebagai titik masuk komputasi personal berbasis AI. Pengguna dapat berinteraksi langsung dengan sistem tanpa layar, menjadikan AI sebagai lapisan realitas tambahan dalam aktivitas harian. (din/dns)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Google Ungkap Serangan Siber AI Berskala Industri

Google Ungkap Serangan Siber AI Berskala Industri

LONDON – Laporan terbaru dari Google mengungkap perubahan drastis dalam situasi keamanan siber global. Dalam waktu hanya tiga bulan, praktik peretasan berbasis akal imitasi (AI) berkembang dari ancaman awal menjadi....

Google Investasikan Rp 690 T ke Anthropic

Google Investasikan Rp 690 T ke Anthropic

Arah persaingan akal imitasi (AI) global kian bergeser ketika Alphabet Inc., induk Google, menyiapkan investasi hingga 40 miliar dolar AS atau hampir Rp 690 triliun ke Anthropic. Investasi ini menunjukkan bahwa...

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer