Sabda Bina Pemuda, Renungan Harian, Minggu, 14 Juni 2026, Hagai 1:1-11 Prioritaskan Tuhan

Pembacaan Alkitab : Hagai 1:1-11
TEMA : PRIORITASKAN TUHAN
Mengutamakan Tuhan adalah dasar hidup yang kokoh. Firman Tuhan berkata, “Perhatikanlah langkah hidupmu! Naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah bait itu. Aku akan berkenan padanya dan dimuliakan, firman Tuhan.” (Hagai 1:7-8).
Ayat ini menjadi panggilan yang tegas bagi kita semua, khususnya pemuda, untuk mengevaluasi kembali arah dan prioritas hidup kita.
Saudara-saudara yang terkasih, setiap orang pasti memiliki rencana dan impian. Terlebih sebagai anak muda, kita penuh dengan harapan akan masa depan: ingin sukses dalam pendidikan, memiliki pekerjaan yang baik, kehidupan yang mapan, dan masa depan yang cerah.
Semua itu baik dan wajar. Namun, pertanyaannya adalah: di mana posisi Tuhan dalam semua rencana itu?
Seringkali tanpa kita sadari, kita menempatkan Tuhan di urutan kedua, bahkan terakhir. Kita lebih sibuk mengejar impian pribadi, sementara relasi kita dengan Tuhan menjadi terabaikan. Ibadah mulai dianggap tidak terlalu penting, pelayanan dianggap sebagai beban, dan waktu untuk Tuhan semakin sedikit.
Kondisi ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam bacaan kita hari ini, Nabi Hagai enyampaikan teguran Tuhan kepada bangsa Israel. Setelah kembali dari pembuangan di Babel, mereka menghadapi tugas besar untuk membangun kembali Yerusalem, termasuk Bait Allah yang telah dihancurkan.
Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka justru lebih fokus membangun rumah-rumah pribadi mereka. Mereka sibuk mengurus kepentingan sendiri, sementara rumah Tuhan dibiarkan terbengkalai.
Mereka merasa sudah bekerja keras, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Mereka makan tetapi tidak kenyang, minum tetapi tidak puas, dan bekerja tetapi tidak merasakan berkat yang cukup. Mengapa demikian? Karena mereka tidak memprioritaskan Tuhan.
Saudara-saudara, firman Tuhan melalui Nabi Hagai sangat jelas: “Perhatikanlah langkah hidupmu!” Ini adalah ajakan untuk introspeksi. Tuhan ingin umat-Nya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam prioritas hidup mereka.
