Bacaan Alkitab: Kejadian 45:1-5
Memaknai Pengalaman Buruk di dalam Keluarga
"... Justru untuk menyelamatkan hiduplah Allah mengutus aku mendahului kamu." (ay.5)
Sobat teruna, rencana Allah untuk membentuk suatu umat sekarang sudah berlanjut ke icit Abraham, Yusuf.
Yusuf adalah anak kesayangan Yakub dan hal itu membuat iri kakak-kakaknya. Yusuf kemudian dijebak oleh kakak-kakaknya dan dijual sebagai budak ke negeri Mesir.
Sesampainya di negeri Mesir, Yusuf mengabdi dengan sangat baik kepada majikannya, Potifar.
Namun, sikap Yusuf yang menolak ajakan istri majikannya untuk berbuat asusila, membuat ia difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara.
Saat di dalam penjara, raja Mesir, Firaun, bermimpi tentang hal yang aneh dan mimpi itu membuat sang raja gusar.
Yusuf pun dihadapkan kepada Firaun, dan ia berhasil menjelaskan arti mimpi Firaun. Atas keberhasilan Yusuf tersebut, Firaun mengangkatnya sebagai pejabat tinggi di tanah Mesir.
Pada satu momen, saat terjadi bencana kekeringan di seluruh Mesir dan negeri-negeri lain yang ada di sekitarnya, Yusuf berjumpa dengan kakak-kakaknya yang dulu menjual ia sebagai budak.
Namun, bukan kebencian atau dendam yang ditunjukkan kepada kakak-kakaknya itu, melainkan belas kasihan dan pengampunan.
Yusuf memaknai kembali peristiwa buruk yang dialaminya sebagai rencana Tuhan untuk melanjutkan kelangsungan hidup keluarganya.
Sobat teruna, dari kisah ini kita mendapatkan pelajaran bahwa hidup berkeluarga terkadang atau mungkin banyak pengalaman buruk yang terjadi pada kita.
Namun, pada diri kita ada kemampuan untuk berhikmat supaya dapat memaknai pengalaman buruk tersebut sebagai pelajaran yang jangan sampai terulang lagi dengan kita sebagai pelakunya.
Justru, kita menjadi pelopor untuk mengubah hubungan antar anggota keluarga menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dengan kebaikan yang dilakukan, kita menghentikan tindakan-tindakan buruk agar tidak terus langgeng dalam kehidupan keluarga kita. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow