Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ferrari Berambisi Akhiri Puasa Kemenangan 22 Tahun

P

TEMPEL RIVAL: Pembalap Ferrari Lewis Hamilton (kiri) adu sprint dengan pembalap Mercedes George Russell pada balapan GP Tiongkok (14/3).
TEMPEL RIVAL: Pembalap Ferrari Lewis Hamilton (kiri) adu sprint dengan pembalap Mercedes George Russell pada balapan GP Tiongkok (14/3).


Advertisement

Ferrari datang ke Suzuka dengan misi khusus: memangkas jarak. Selain ambisi mengejar poin, tim asal Maranello itu juga ingin mengakhiri puasa kemenangan selama 22 tahun di negeri matahari terbit.

Ferrari datang dengan beban sejarah sekaligus peluang. Sejak kemenangan terakhir Michael Schumacher pada 2004, tim asal Maranello itu belum pernah lagi berjaya di Suzuka. Kini, lewat mobil terbaru mereka, Ferrari berharap bisa memanfaatkan karakteristik sirkuit yang secara teknis—terutama sektor S-Curves—dinilai lebih cocok dengan kekuatan mobil mereka.

Pembalap andalan Ferrari, Charles Leclerc, menilai duel dengan Mercedes akan sangat ditentukan sejak sesi latihan. “Keunggulan Mercedes di lintasan lurus bisa diimbangi Ferrari di sektor teknis, sehingga peluang tetap terbuka,” kata Leclerc saat konferensi pers kemarin (26/3) dikutip dari GPBlog. Menurutnya, mobil SF-266 diperkirakan bakal unggul di sektor pertama yang terdiri dari rangkaian tikungan S-Curves.

Advertisement

 

 

“Mercedes akan sangat kuat di lintasan lurus, tapi dua sektor pertama bisa memberikan peluang bagi kami.”

Charles Leclerc

Advertisement

- Pembalap Ferrari -

 

FIA Ubah Regulasi

Di sisi lain, FIA atau Federasi Automobil Internasional membuat perubahan penting dengan mengurangi batas energi kualifikasi dari 9 MJ (megajoule) menjadi 8 MJ per lap. Tujuannya untuk mengurangi fenomena “super clipping” dan membuat pembalap lebih fokus pada performa murni. Namun, Leclerc menilai perubahan ini tidak mengubah peta persaingan secara signifikan.

“Saya tidak berpikir perubahan khusus ini akan menjadi game changer,” kata Leclerc. “Gerakan lift and coast mungkin berkurang, itu hal baik, tapi (hasil balapan) masih akan mirip,” tuturnya.

 

 

Ujian Berat Verstappen

Sementara itu, Max Verstappen tiba di Suzuka dengan beban cukup berat. Pembalap Red Bull itu merupakan ‘penguasa’ Suzuka setelah memenangi empat edisi terakhir pada 2022 hingga 2025. Namun, mempertahankan dominasi itu terasa jauh lebih sulit tahun ini. Setelah gagal finis di Shanghai akibat masalah pendinginan energi mesin Red Bull-Ford, Verstappen mengakui jika tantangan musim ini terasa lebih berat.

“Segalanya lebih sulit dari yang diinginkan. Masih banyak pekerjaan rumah. Tapi saya percaya pada tim untuk mengoptimalkan performa mobil,” tutur Verstappen dikutip dari Speedweek. (ka/bas)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Jawa Pos Koran

Artikel Terkait

Red Bull Siap Tinggalkan Sayap "Macarena", Dipicu Dua Insiden Beruntun yang Menimpa Verstappen

Red Bull Siap Tinggalkan Sayap "Macarena", Dipicu Dua Insiden Beruntun yang Menimpa Verstappen

Red Bull Racing berpotensi untuk meninggalkan desain sayap belakang unik yang dijuluki "Macarena" atau upside-down rear wing. Hal itu diakibatkan dua insiden beruntun yang dialami Max Verstappen di Grand Prix Austria....

Wali Kota Hengky Honandar Buka Karate Open Tournament Kajati Cup ke-5 dan Wali Kota Bitung 2026

Wali Kota Hengky Honandar Buka Karate Open Tournament Kajati Cup ke-5 dan Wali Kota Bitung 2026

Pemerintah Kota Bitung berkomitmen untuk terus mendukung kemajuan olahraga.

Debut Sempurna Mitchell Bakker

Debut Sempurna Mitchell Bakker

Mitchell Bakker tak membutuhkan waktu lama untuk mencuri perhatian publik Indonesia. Penyerang berusia 19 tahun itu langsung mengukir debut sempurna bersama Timnas Indonesia saat menundukkan Kamboja 5-1 pada laga....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer