
JagoSatu.com - Saham produsen chip memori rontok setelah Google meluncurkan teknologi kompresi baru yang bisa memangkas kebutuhan memori sistem kecerdasan buatan secara drastis. Algoritma bernama TurboQuant ini diklaim mampu mengurangi ukuran cache hingga enam kali lipat tanpa harus melatih ulang model. Inovasi ini tentu membuat investor panik karena efisiensi berlebihan bisa berarti penurunan permintaan produk fisik.
Raksasa seperti SanDisk anjlok hampir 6%, sementara Micron Technology turun sekitar 3% menyusul pengumuman tersebut. Western Digital dan Seagate juga ikut terseret dalam zona merah karena kekhawatiran pasar terhadap masa depan penyimpanan data. Pasar saham memang sangat sensitif terhadap teknologi yang berpotensi menggantikan kebutuhan perangkat keras secara masif dan tiba-tiba.
Berdasarkan laporan dari Yahoo! Finance, TurboQuant mampu mengompresi komponen key-value cache pada model bahasa besar menjadi hanya tiga bit saja. Google menyatakan pengujian menunjukkan peningkatan performa hingga delapan kali lebih cepat pada perangkat keras tertentu. Efisiensi perangkat lunak yang gila-gilaan seperti ini sering kali menjadi musuh alami bagi pertumbuhan penjualan vendor hardware.
Analis memberikan pandangan beragam mengenai dampak jangka panjang dari algoritma kompresi canggih milik raksasa pencarian internet tersebut. Beberapa menilai ini bisa mengurangi permintaan memori jika diadopsi secara luas, namun ada juga yang masih meragukan implementasinya. Ketidakpastian ini adalah bahan bakar utama bagi volatilitas saham di sektor semikonduktor yang sedang sangat panas.
Menariknya, saham AMD dan Intel justru merangkak naik di tengah spekulasi kemungkinan adanya kenaikan harga di sektor lain. Sementara itu, indeks Nasdaq 100 secara umum masih menunjukkan penguatan meski sektor memori sedang dihantam badai. Dinamika pasar teknologi memang sangat kompleks, di mana satu berita buruk bagi memori bisa menjadi peluang bagi prosesor.
Sebagaimana dilaporkan oleh Yahoo! Finance, saham Micron (MU) turun 4,3% karena investor bereaksi terhadap klaim Google yang bisa mengurangi ketergantungan pada chip memori. Kekhawatiran bahwa efisiensi tinggi akan mengurangi kebutuhan produk Micron memicu aksi jual di sesi sore. Reaksi pasar yang cepat ini membuktikan betapa besarnya pengaruh Google dalam menentukan standar efisiensi teknologi masa depan.
Bank of America (BofA) justru melihat kemerosotan saham memori ini sebagai peluang emas bagi para investor untuk masuk. Menurut mereka, kekhawatiran pasar terhadap penurunan permintaan memori AI terlalu berlebihan dan tidak berdasar pada realitas industri. Terkadang pasar memang bereaksi berlebihan terhadap berita teknologi tanpa melihat fundamental kebutuhan data yang terus membengkak.
BofA berargumen bahwa belanja modal AI tetap menjadi bukti nyata permintaan kuat, bukan sekadar ukuran efisiensi perangkat lunak saja. Mereka juga mencatat bahwa Google sebenarnya menaikkan prospek belanja modal tahun 2026 menjadi sekitar $180 miliar. Jika Google sendiri menaikkan belanja modalnya, maka permintaan hardware sebenarnya masih sangat jauh dari kata berakhir.
Dikutip dari Yahoo! Finance, analis BofA menunjukkan bahwa chip TPU v7 terbaru milik Google justru menggunakan memori HBM enam kali lebih banyak. Hal ini membuktikan bahwa efisiensi sering kali digunakan untuk menjalankan model yang lebih besar, bukan memangkas jumlah memori. Paradoks ini sering terjadi; semakin efisien sebuah sistem, manusia justru akan menggunakannya secara lebih rakus lagi.
Analis Morgan Stanley, Shawn Kim, menyebutkan fenomena ini mirip dengan Jevons Paradox dari ekonomi abad ke-19 tentang produksi batu bara. Teori ini menyatakan bahwa semakin efisien teknologi menggunakan sumber daya, permintaan terhadap sumber daya tersebut justru akan naik. Ini adalah logika yang sangat menarik, di mana efisiensi justru menjadi pemicu ledakan konsumsi memori.



