Jagosatu.com - Pada akhir abad ke-2 Masehi, ketika Dinasti Han mulai runtuh, seorang pria bernama Liu Bei mulai dikenal di antara para petualang yang berambisi merebut kekuasaan. Meski dilahirkan dalam keluarga miskin, Liu Bei memiliki garis keturunan dari penguasa awal Dinasti Han, yang memberinya klaim atas kejayaan masa lalu. Tekad dan kegigihannya akhirnya membawanya dari kehidupan sederhana menuju puncak kekuasaan sebagai pendiri Kerajaan Shu.
Liu Bei lahir pada tahun 161 Masehi di daerah Zhuo, kini dikenal sebagai Provinsi Hebei. Ayahnya hanyalah seorang petani, sehingga kehidupan masa kecil Liu Bei diwarnai oleh kemiskinan. Meski demikian, semangat Liu Bei untuk belajar dan memperjuangkan kebaikan rakyat mendorongnya terjun ke dunia politik. Ia memulai kariernya sebagai pegawai negeri di provinsi Xu dan kemudian bergabung dengan militer Dinasti Han.
Ketika Dinasti Han mengalami krisis pada tahun 184 Masehi, yang disebabkan oleh perselisihan di dalam klan kekaisaran dan para pejabat tinggi, Liu Bei memanfaatkan kesempatan ini untuk menegakkan keadilan bagi rakyat. Ia membentuk pasukan kecil yang dikenal sebagai Pasukan Serban Kuning dan berhasil mengalahkan para pemberontak yang menindas rakyat. Pada masa inilah Liu Bei bertemu dengan Guan Yu dan Zhang Fei, dua jenderal yang kemudian menjadi saudara angkatnya dan mengiringi kisah epiknya dalam sejarah.
Awalnya, Liu Bei tidak memiliki wilayah untuk menyusun kekuatan. Ia harus mencari perlindungan dan sempat menjadi bawahan dari beberapa jenderal besar lainnya seperti Lu Bu, Cao Cao, Yuan Shao, dan Liu Zhang. Namun, melalui serangkaian pertempuran dan aliansi yang cerdik, Liu Bei berhasil mengumpulkan kekuatan dan dukungan masyarakat. Ia mendirikan basis di kawasan terpencil Shu (sekarang Sichuan) dan memproklamirkan dirinya sebagai pewaris sah Dinasti Han setelah Cao Pi mendirikan Cao Wei pada tahun 220 Masehi.
Kerajaan Shu yang didirikan oleh Liu Bei harus menghadapi tantangan besar dari dua kerajaan saingan: Wei di utara dan Wu di timur. Meski Shu kalah dari segi kekuatan militer, Liu Bei memiliki penasihat cerdik dan jenderal berbakat seperti Zhuge Liang, Ma Chao, Pang Tong, Huang Zhong, dan Zhao Yun, yang membantunya mempertahankan kekuasaan.
Sayangnya, petualangan Liu Bei berakhir tragis. Ia meninggal dunia pada tahun 223 Masehi karena jatuh sakit setelah mencoba membalas kematian dua saudara angkatnya dalam pertempuran melawan Wu. Kepemimpinan Shu kemudian dilanjutkan oleh putranya, Liu Shan. Namun, Liu Shan dikenal kurang cakap dalam memerintah, dan pada akhirnya, Kerajaan Shu menyerah kepada Wei pada tahun 263 Masehi, menandai berakhirnya dinasti yang singkat namun penuh drama ini.
Meski Kerajaan Shu hanya bertahan selama beberapa dekade, warisan Liu Bei tetap menginspirasi. Kisah heroik perjuangannya melawan arus kekuasaan menjadi simbol perlawanan bagi generasi berikutnya di Tiongkok. Romantisme dan drama yang meliputi kehidupan Liu Bei dan naik-turunnya Kerajaan Shu terus dikenang hingga hari ini, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Tiongkok kuno.
Selain perjalanan politik dan militer yang dramatis, terdapat beberapa fakta menarik tentang Liu Bei yang memperkaya pemahaman kita tentang tokoh ini. Ia lahir di daerah Zhuo pada tahun 161 dan merupakan keturunan dari Liu Sheng, anak kesembilan Kaisar Jing dari Dinasti Han. Selama masa mudanya, Liu Bei belajar di bawah bimbingan Lu Zhi dan menjadi teman baik Gongsun Zan, yang kelak menjadi pemimpin daerah yang mempertemukan Zhao Yun dengan Liu Bei.
Ketika Tao Qian, gubernur Xu, hendak wafat, ia mewasiatkan kepemimpinannya kepada Liu Bei, meskipun awalnya Liu Bei menolak. Namun, setelah dorongan dari Chen Deng dan Mi Zhu, Liu Bei akhirnya menerima tawaran tersebut dan diakui sebagai pemimpin oleh Yuan Shao.
Liu Bei juga dikenal karena aliansi yang ia bentuk dengan Sun Quan pada tahun 208-209 untuk menghadapi Cao Cao. Aliansi ini mencapai puncaknya dalam kemenangan besar di Pertempuran Chibi. Setelah berhasil merebut provinsi Yi dari Liu Zhang pada tahun 215, Liu Bei mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Shu dan menjadikan dirinya sebagai Raja Hanzhong pada tahun 219, sebuah langkah yang menandingi kekuatan Cao Wei.
Liu Bei wafat pada tahun 223 di Baidicheng, dan kerajaannya dilanjutkan oleh putranya, Liu Shan, di bawah pengawasan Zhuge Liang dan Li Yan. Meski Kerajaan Shu akhirnya runtuh, kisah Liu Bei tetap abadi dalam sejarah dan sastra Tiongkok, terutama dalam novel epik "Romance of the Three Kingdoms," di mana ia digambarkan sebagai pemimpin yang berjuang untuk kebaikan rakyat dan persatuan negara.
(R. Jong)