JAGOSATU.COM - Di zaman Mesir kuno, ketika seseorang dibuat menjadi mumi, organ-organ tubuhnya ditaruh di dalam toples canopic, dan tubuhnya diberi natron sebelum dibungkus dengan perban untuk dikeringkan.
Proses ini membuat tubuh tetap utuh selama ribuan tahun, meskipun identitas dan cerita orang tersebut sering kali hilang.
Kaki mumi sering diambil sebagai suvenir oleh penjelajah Eropa yang menjarah makam-makam di Mesir kuno. Beberapa mumi bahkan diurai untuk hiburan publik atau digunakan sebagai pupuk.
Salah satu kaki mumi dijadikan pusat cerita dalam cerita pendek gothik tahun 1840 yang berjudul The Mummy’s Foot. Kisah ini menceritakan seorang kolektor yang membeli kaki mumi untuk digunakan sebagai penjepit kertas.
Pria dalam cerita tersebut awalnya mengira kaki itu bukan kaki mumi, tapi kemudian menyadari kebenarannya. Dia membawa pulang kaki tersebut dan dihantui mimpi yang membawanya ke Mesir di mana dia bertemu pemilik sebenarnya, Putri Hermonthis. Putri tersebut tidak senang kakinya dicuri dan digunakan sebagai penjepit kertas.
Meskipun cerita ini hanya untuk hiburan, kemungkinan besar memengaruhi perilaku kolektor nyata di Eropa. Salah satu kaki mumi yang ada diyakini milik seorang dokter Inggris pada abad ke-19. Ditemukan juga kemungkinan menarik lainnya, bahwa kaki mumi tersebut mungkin milik putri kota Hermonthis di Mesir. ***
Editor : Toar Rotulung