Penelitian yang dipimpin oleh Yosua Adrian Pasaribu dan R. Cecep Eka Permana membawa kita ke dalam dunia misteri seni cadas prasejarah di Sulawesi Selatan.
Melalui analisis motif binatang dalam seni cadas, penelitian ini mengungkap konteks budaya yang mungkin tersembunyi di balik karya seni kuno ini.
Dalam penelitan ini, peneliti menggunakan dua hipotesis yaitu Totemisme Layton dan Samanisme.
Hipotesis totemisme Layton (2000) dan hipotesis samanisme dapat digunakan sebagai kerangka teoretis untuk memahami asal mula agama-agama primitif dalam penelitian tentang perkembangan sistem kepercayaan manusia.
Hipotesis Totemisme
Hipotesis totemisme Layton (2000) menjadi fokus penelitian ini.
Jika jenis binatang tertentu digambarkan dalam jumlah frekuensi yang rendah dan setiap jenis binatang tersebut digambarkan pada situs tertentu, hal ini menunjukkan konteks budaya motif binatang sebagai totemisme.
Temuan menunjukkan bahwa motif binatang seperti babi endemik, babi celeng, dan ikan sering digambarkan, dan setiap motif binatang tertentu digambarkan pada daerah tertentu di Sulawesi Selatan.
Hipotesis totemisme dinyatakan dapat diterima.
Hipotesis Samanisme dan Kehidupan Sehari-hari
Meskipun hipotesis samanisme juga dieksplorasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua motif binatang digambarkan dalam jumlah frekuensi yang tinggi di semua situs, sehingga hipotesis samanisme ditolak.
Begitu juga dengan hipotesis kehidupan sehari-hari, karena motif-motif binatang tersebut tidak cukup untuk menunjukkan konteks budaya kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini menempatkan seni cadas prasejarah Sulawesi Selatan dalam konteks budaya totemisme, menunjukkan kemungkinan hubungan dengan seni cadas di Australia.
Meskipun penelitian memiliki kelemahan seperti masalah periodisasi dan keterbatasan jumlah motif binatang yang diteliti, metode yang digunakan terbukti dapat diterapkan untuk memahami pola penggambaran motif binatang.
Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang seni cadas prasejarah di Sulawesi Selatan, memperdalam pemahaman kita tentang kompleksitas kehidupan manusia prasejarah.
Dengan mengungkap misteri di balik motif-motif binatang ini, kita dapat lebih menghargai warisan budaya yang kaya di Indonesia.
Langkah selanjutnya adalah melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengisi celah pengetahuan yang masih ada dan memperdalam pemahaman kita tentang seni prasejarah ini.