Jagosatu.com - Ma Chao, dikenal juga dengan nama kehormatannya Ma Mengqi, adalah seorang jenderal legendaris dari akhir Dinasti Han dan awal Zaman Tiga Kerajaan di Tiongkok. Lahir pada tahun 176 M, ia merupakan putra sulung Ma Teng, seorang panglima perang terkemuka di Provinsi Liang, wilayah barat laut Tiongkok. Ma Chao adalah keturunan dari Ma Yuan, seorang jenderal terkenal pada masa sebelumnya, dan bersama dengan Ma Dai, sepupunya, ia menjadi sosok yang sangat dihormati dalam sejarah militer Tiongkok.
Kisah heroik Ma Chao bermula ketika ayahnya, Ma Teng, bersama dengan dua saudara Ma Chao, Ma Xiu dan Ma Tie, ditipu oleh panglima perang Cao Cao. Mereka dipanggil ke ibu kota Chang’an dan kemudian dibunuh oleh Cao Cao. Kejadian ini menyalakan api dendam di hati Ma Chao, yang kemudian menggerakkan tentaranya untuk membalas kematian keluarganya. Bersama dengan Han Sui, seorang jenderal yang merupakan saudara angkat ayahnya, Ma Chao melancarkan serangan ke Changan dan berhasil menguasai kota tersebut dengan mudah.
Setelah menguasai Changan, Ma Chao melanjutkan serangannya ke Terusan Tong, sebuah lokasi strategis yang dijaga oleh pasukan Cao Cao. Meskipun Cao Cao telah mengirimkan 10.000 tentara di bawah komando Cao Hong dan Xu Huang untuk mempertahankan terusan tersebut, Ma Chao berhasil mengalahkan mereka dan merebutnya. Kemudian, Cao Cao sendiri memimpin pasukannya untuk merebut kembali Terusan Tong, tetapi Ma Chao menunjukkan keahliannya yang luar biasa dalam pertempuran, mengalahkan beberapa jenderal terkuat Cao Cao, termasuk Yu Jin dan Zhang He. Bahkan, Cao Cao nyaris tewas dalam pertempuran ini dan harus memotong janggut serta melepaskan jubahnya agar tidak dikenali oleh pasukan Ma Chao yang sedang mengejar.
Namun, kemenangan ini tidak bertahan lama. Cao Cao, dengan kecerdikannya, menggunakan taktik licik untuk memecah belah Ma Chao dan Han Sui. Melalui intrik yang cermat, Cao Cao berhasil membuat Ma Chao curiga terhadap Han Sui, yang pada akhirnya menyebabkan perpecahan antara kedua sekutu ini. Ketika Ma Chao mencoba membunuh Han Sui dalam amarahnya, ia hanya berhasil melukai tangan Han Sui, namun hal ini memberikan kesempatan bagi Cao Cao untuk melancarkan serangan balasan yang berhasil mengalahkan Ma Chao.
Setelah kekalahan tersebut, Ma Chao melarikan diri bersama sepupunya, Ma Dai, dan seorang jenderal setia bernama Pang De. Mereka kemudian mencari perlindungan di bawah Zhang Lu, seorang panglima perang lain. Namun, ketika Liu Bei, raja Shu Han, menyerang wilayah Liu Zhang, Ma Chao memutuskan untuk bergabung dengan Liu Bei setelah pertempuran sengit dengan Zhang Fei yang berlangsung selama dua hari tanpa ada pemenang yang jelas. Merasa terhormat dan dihargai oleh Liu Bei, Ma Chao menjadi salah satu dari Lima Panglima Harimau, posisi yang sangat dihormati dalam kerajaan Shu.
Selama masa baktinya di Shu Han, Ma Chao bertanggung jawab menjaga perbatasan utara dari serangan suku-suku barbar dan ancaman dari Kerajaan Wei, yang dipimpin oleh Cao Cao. Meskipun Ma Chao tidak pernah berhasil membalaskan kematian ayahnya sepenuhnya atau mengalahkan Cao Cao, ia dikenang sebagai pahlawan yang gagah berani dan setia.
Ma Chao meninggal pada tahun 222 M karena sakit, meninggalkan warisan sebagai salah satu pahlawan terbesar dalam sejarah Tiongkok. Ia digantikan oleh putranya, Ma Dai, yang melanjutkan perjuangannya sebagai jenderal Shu Han. Keberanian dan kehebatannya dalam pertempuran tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang hingga kini. Ma Chao adalah bukti bahwa meskipun menghadapi tantangan besar dan pengkhianatan, semangat juang dan kesetiaan sejati tetap abadi.
(R. Jong)