Jagosatu.com - Amerika Serikat dan Uni Eropa baru saja membuat kesepakatan dagang baru yang bikin banyak negara lain ketar-ketir.
Kesepakatan ini berisi rencana menaikkan tarif impor untuk berbagai produk yang masuk dari luar.
Tarif ini bisa mencapai 15 hingga 30 persen tergantung jenis barangnya.
Menurut Financial Times, kesepakatan ini adalah langkah besar menuju arah perdagangan yang lebih tertutup alias proteksionis.
Proteksionisme adalah kebijakan yang membatasi barang masuk dari luar agar produk lokal lebih dilindungi.
Langkah ini diprediksi bisa memicu perang dagang antarnegara jika tidak dikontrol dengan baik.
Banyak negara yang khawatir karena aturan ini bisa memengaruhi ekspor mereka ke dua pasar besar dunia itu.
Baca Juga: BP Temukan Ladang Minyak Raksasa di Brasil: Apakah Ini Solusi Krisis Energi Dunia?
Menurut pakar ekonomi internasional, kebijakan ini bisa bikin harga barang naik di banyak negara.
Pasalnya, kalau barang dari luar dikenakan tarif tinggi, otomatis harga jual di negara tujuan ikut naik.
Misalnya, barang elektronik dari Asia ke Eropa bisa jadi jauh lebih mahal dari sebelumnya.
Kesepakatan ini juga menunjukkan bahwa kerja sama internasional dalam perdagangan makin rapuh.
Beberapa negara, seperti China dan India, menyebut langkah ini sebagai bentuk diskriminasi dagang.
Pakar dari Center for Strategic and International Studies menyebut, keputusan ini bisa berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi global.
Bagi negara berkembang yang sangat bergantung pada ekspor, kebijakan ini sangat merugikan.
Uni Eropa sendiri menyebut langkah ini sebagai bentuk perlindungan terhadap industri mereka.
Sementara AS menyatakan ini adalah bentuk ‘rebalancing’ atau penyeimbangan ulang perdagangan global.
Banyak pengusaha di Eropa yang khawatir produk mereka akan kesulitan masuk pasar AS dan sebaliknya.
Dilansir dari CNBC, perusahaan otomotif Eropa seperti BMW dan Mercedes berpotensi terkena dampak besar dari tarif baru ini.
Di sisi lain, industri lokal AS dan Eropa berharap kebijakan ini bisa menghidupkan kembali pabrik-pabrik lama.
Namun, tidak semua setuju dengan langkah ini karena bisa membuat konsumen kehilangan banyak pilihan.
Analis ekonomi menyebutkan bahwa proteksionisme biasanya hanya menguntungkan dalam jangka pendek.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa bikin daya saing perusahaan lokal malah turun karena tidak ada persaingan sehat.
Para pelaku usaha global sekarang sedang menunggu langkah lanjutan dari WTO atau Organisasi Perdagangan Dunia.
WTO punya peran penting dalam menyelesaikan konflik dagang antarnegara seperti ini.
Jika WTO tidak segera turun tangan, bisa saja negara lain ikut membuat aturan serupa dan memicu kekacauan ekonomi dunia.
(J)
Editor : ALengkong