Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sistem Perdagangan Dunia Pasca 1945 Mulai Runtuh, Apa Artinya untuk Ekonomi Global?

ALengkong • 2025-08-28 06:30:38

Tarif melonjak, blok dagang terpecah, dan ketegangan AS–China makin panas—apa dampaknya bagi kita semua?
Tarif melonjak, blok dagang terpecah, dan ketegangan AS–China makin panas—apa dampaknya bagi kita semua?

Jagosatu.com - Sistem perdagangan global yang sudah berjalan sejak tahun 1945 kini menghadapi ancaman serius.

Menurut laporan The Times, tatanan perdagangan dunia pasca Perang Dunia II yang dibangun melalui kerja sama internasional semakin rapuh.

Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya proteksionisme, yaitu kebijakan negara yang lebih mengutamakan kepentingan sendiri dengan cara mengenakan tarif tinggi.

Tarif perdagangan di Amerika Serikat misalnya, kini sudah mencapai lebih dari 18 persen.

Angka itu merupakan level tertinggi sejak tahun 1933 ketika dunia masih dilanda Depresi Besar.

Kenaikan tarif ini tidak hanya berdampak pada negara mitra dagang, tetapi juga bisa membuat harga barang di dalam negeri ikut naik.

Selain itu, perang tarif antarnegara semakin sering terjadi, membuat aliran perdagangan global tersendat.

Baca Juga: Trump Berusaha Copot Gubernur Bank Sentral, Pasar Langsung Panik!

The Times juga mencatat bahwa China menjadi negara dengan subsidi terbesar di antara anggota G20.

Subsidi ini membuat produk China bisa dijual lebih murah di pasar dunia sehingga mendominasi ekspor global.

Namun, kondisi ini justru menimbulkan ketidakadilan bagi negara lain yang tidak mampu memberikan subsidi sebesar itu.

Akibatnya, sistem perdagangan global mulai pecah menjadi dua blok besar.

Blok pertama dipimpin oleh Amerika Serikat yang menguasai sebagian besar kekayaan dan perdagangan dunia.

Blok kedua dipimpin oleh China yang mewakili hampir setengah populasi dunia.

Fragmentasi ini dikhawatirkan akan menciptakan ketegangan ekonomi yang lebih besar di masa depan.

Tanpa adanya koordinasi antara dua kekuatan besar ini, stabilitas ekonomi global akan semakin rapuh.

Banyak pakar menilai, bila situasi ini dibiarkan, maka dunia bisa menghadapi krisis perdagangan baru.

Sistem perdagangan bebas yang dulu dianggap sebagai motor pertumbuhan global bisa kehilangan relevansinya.

Yang jelas, perubahan ini akan berpengaruh pada banyak sektor, mulai dari industri, perdagangan, hingga harga kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat dunia pun harus siap menghadapi era baru perdagangan global yang penuh ketidakpastian.

(J)

Editor : ALengkong
#proteksionisme global #amerikaserikat #PerdaganganDunia #tarif #China - AS #China #EkonomiGlobal