Jagosatu.com - Dunia pertambangan diguncang kabar besar setelah Anglo American sepakat melakukan merger dengan Teck Resources asal Kanada.
Nilai merger ini mencapai 53 miliar dolar AS atau sekitar Rp850 triliun.
Perusahaan baru hasil merger ini akan diberi nama Anglo Teck.
Menurut The Guardian, kantor pusat perusahaan gabungan akan berada di Vancouver, Kanada.
Meski begitu, Anglo Teck tetap akan terdaftar di bursa saham London, Johannesburg, Vancouver, dan New York.
Alasan utama merger ini adalah melonjaknya permintaan tembaga global.
Tembaga saat ini menjadi komoditas penting karena dipakai di kendaraan listrik, panel surya, hingga infrastruktur AI.
Dengan menggabungkan kekuatan, Anglo dan Teck bisa menjadi pemain dominan di pasar tembaga dunia.
Kedua perusahaan ini sebelumnya sudah punya portofolio besar di bidang pertambangan batu bara, nikel, dan mineral lain.
Baca Juga: Tak Disangka! Dell Pilih Sumash Singh untuk Kendalikan Pasar Malaysia-Indonesia
Merger ini disebut-sebut akan mengubah peta persaingan pertambangan dunia dalam satu dekade ke depan.
Investor menyambut positif kabar merger karena melihat peluang pertumbuhan besar di sektor energi baru.
Permintaan tembaga diperkirakan naik tajam seiring transisi dunia menuju energi hijau.
Menurut analis, kesepakatan ini juga bisa membuat Anglo Teck lebih kuat menghadapi raksasa lain seperti BHP dan Rio Tinto.
Selain itu, merger ini juga akan menciptakan ribuan lapangan kerja baru di Kanada dan negara lain tempat mereka beroperasi.
Namun, sejumlah pihak khawatir akan dampak lingkungan dari ekspansi tambang yang lebih besar.
Aktivis lingkungan mendesak agar Anglo Teck benar-benar menerapkan standar hijau yang ketat.
Jika berhasil, merger ini bisa jadi contoh bagaimana industri tambang beradaptasi dengan era transisi energi.
Tapi jika gagal, merger ini bisa jadi bumerang dengan meningkatnya kritik soal kerusakan lingkungan.
Apa pun hasilnya, merger Anglo American–Teck jelas menjadi salah satu kesepakatan bisnis terbesar tahun ini. (J)
Editor : ALengkong