Jagosatu.com - Ekonomi China lagi kena sindrom aneh bernama “involution” yang bikin banyak orang kerja keras tapi hasilnya gak seberapa.
Istilah “involution” berasal dari bahasa Inggris yang artinya melingkar ke dalam, alias sibuk di tempat tapi gak maju.
Fenomena ini lagi jadi bahan pembicaraan besar di media sosial China, terutama di kalangan pekerja muda.
Menurut The Wall Street Journal, involution di China terjadi karena kompetisi kerja dan industri yang terlalu ketat.
Banyak perusahaan terus bersaing menurunkan harga, padahal margin keuntungannya udah tipis banget.
Kondisi ini bikin ekonomi jadi “jalan di tempat” karena semua berusaha survive tapi gak ada yang benar-benar untung.
Industri teknologi pun kena imbasnya karena banyak startup yang gagal tumbuh di tengah persaingan brutal.
Sementara itu, tingkat konsumsi masyarakat justru turun karena orang lebih banyak menabung daripada belanja.
Pemerintah China berusaha menahan deflasi, tapi permintaan pasar masih lemah banget.
Deflasi itu kebalikan dari inflasi — harga-harga turun karena orang gak banyak beli barang.
Kalau berlangsung lama, deflasi bisa bikin bisnis bangkrut dan pengangguran meningkat.
China sebenarnya udah banyak investasi di sektor teknologi tinggi, tapi itu gak cukup tanpa daya beli masyarakat.
Banyak pabrik juga kelebihan kapasitas, alias produksi lebih banyak dari permintaan pasar.
Dampaknya, harga barang jatuh dan pekerja banyak yang dirumahkan.
Ekonom bilang, involution ini bikin ekonomi China kehilangan semangat inovasi.
Banyak orang kerja lembur gila-gilaan tapi tanpa peningkatan produktivitas nyata.
Kondisi sosial pun makin tegang karena kesenjangan antara kota besar dan daerah makin lebar.
Menurut laporan IMF, pertumbuhan ekonomi China tahun 2025 diprediksi melambat ke sekitar 4,3 persen.
Itu angka yang cukup rendah dibanding dekade sebelumnya ketika China bisa tumbuh di atas 8 persen.
Banyak analis bilang, China perlu reformasi besar supaya bisa keluar dari jebakan “involution” ini.
Kalau enggak, ekonomi terbesar kedua di dunia itu bisa terus kelelahan bersaing tanpa hasil nyata.
(J)
Editor : ALengkong