Jagosatu.com - Indonesia mencatat transaksi perdagangan karbon hampir Rp 7 triliun dan angka ini menunjukkan semakin seriusnya negeri ini memasuki era ekonomi hijau.
Perdagangan karbon adalah sistem jual beli izin emisi karbon untuk mengendalikan polusi.
Menurut Antara News, total transaksi karbon Indonesia mencapai hampir Rp 7 triliun hingga November 2025.
Angka tersebut berasal dari penjualan sekitar 12 juta ton CO₂ dari sektor teknologi.
Selain itu ada juga 1,5 juta ton CO₂ dari sektor FOLU dan pembangkit listrik.
FOLU adalah singkatan dari Forestry and Other Land Use atau kehutanan dan penggunaan lahan.
Program perdagangan karbon ini diperkenalkan di forum internasional COP30.
Baca Juga: Gila! Industri Kecil Australia Kebanjiran Kontrak Rp 25 Triliun dari Program Rantai Pasok Global
Tujuan utamanya adalah mengurangi dampak perubahan iklim dengan cara membatasi emisi karbon.
Indonesia menjadi salah satu negara yang paling aktif di pasar karbon dunia.
Menurut laporan Antara News, sektor teknologi menjadi penyumbang terbesar dalam transaksi karbon ini.
Program ini membuka peluang baru bagi perusahaan yang berhasil menurunkan emisi karbonnya.
Perusahaan bisa menjual “kredit karbon” yang mereka hasilkan sebagai bentuk insentif.
Kredit karbon adalah sertifikat yang menandakan bahwa sebuah perusahaan berhasil menurunkan emisi dalam jumlah tertentu.
Semakin besar penurunan emisi, semakin banyak kredit karbon yang bisa dijual.
Bagi Indonesia, perdagangan karbon ini menjadi sumber pendapatan baru yang cukup menjanjikan.
Anak muda yang peduli lingkungan juga bisa memahami bahwa ekonomi hijau sekarang bukan hanya teori tapi sudah menjadi bisnis nyata.
Program ini juga mendorong perusahaan untuk lebih ramah lingkungan.
Pemerintah berharap sistem ini bisa mempercepat transisi menuju energi bersih.
Jika program ini berjalan konsisten, Indonesia bisa menjadi pemain penting di pasar karbon global.
Perdagangan karbon juga memungkinkan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. (J)
Editor : ALengkong