Jagosatu.com – Pemerintah melalui Menteri Keuangan meminta bank sentral melakukan kebijakan moneter yang lebih longgar agar pemulihan ekonomi semakin cepat.
Pemerintah menempatkan dana SAL sebesar Rp200 triliun di bank milik negara untuk meningkatkan likuiditas perbankan.
Data mencatat bahwa uang primer atau M0 tumbuh lebih dari 13 persen akibat penempatan dana pemerintah tersebut.
Likuiditas dalam arti luas atau M2 juga meningkat dan menunjukkan bahwa perputaran uang di masyarakat semakin aktif.
Pemerintah menilai kombinasi kebijakan fiskal dan moneter sangat penting untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
Belanja pemerintah yang terus digenjot diharapkan memberi efek berganda kepada konsumsi dan investasi masyarakat.
Stimulus tersebut juga diproyeksikan mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal IV hingga melampaui angka 5 persen.
Masyarakat diharapkan mendapatkan manfaat dari meningkatnya aktivitas ekonomi melalui daya beli yang makin kuat.
Baca Juga: UMKM Digital Diprediksi Jadi Penopang Ekonomi 2026, Apa Sebabnya?
Selain itu, dunia usaha juga diharapkan lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan akibat likuiditas yang semakin longgar.
Pemerintah menilai peningkatan likuiditas akan memperkuat kredit perbankan untuk pelaku usaha kecil dan menengah.
Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa pelonggaran likuiditas belum tentu optimal jika permintaan kredit belum pulih.
Karena itu, pemerintah menekankan bahwa kebijakan struktural tetap harus berjalan berdampingan dengan stimulus fiskal.
Kebijakan belanja negara diklaim sudah berjalan lebih cepat melalui proyek strategis dan program prioritas.
Langkah ini juga bertujuan memperbaiki perlambatan ekonomi yang sempat terjadi pada kuartal sebelumnya.
Pemerintah berharap dengan strategi yang lebih agresif ini, ekonomi dapat kembali tumbuh sebelum akhir tahun.
Meski demikian, stabilitas makroekonomi tetap harus dijaga agar inflasi dan nilai tukar tidak terganggu.
Koordinasi antara pemerintah dan bank sentral dinilai menjadi kunci keberhasilan strategi pemulihan ini.
Jika tidak berhati-hati, pelonggaran likuiditas berlebihan bisa memicu lonjakan harga di masa mendatang.
Meski ada risiko, banyak pihak menilai bahwa langkah pemerintah saat ini tepat untuk mendukung sektor usaha.
Apabila strategi fiskal dan moneter berjalan seimbang, pemulihan ekonomi nasional diyakini dapat terjadi lebih cepat.
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bagian dari rencana jangka panjang untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia.
Editor : ALengkong